Pages

Jumat, 30 Agustus 2013

proposal KTI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok tertentu (kelompok etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu yang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya ke generasi berikutnya (Handerson, 1981). Etik berbeda dengan ras (race). Ras merupakan sistem pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh dan bentuk kepala. Ada tiga jenis ras yang umumnya dikenal, yaitu Kaukasoid, Negroid, Mongoloid. Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau diajarkan manusia kepada generasi berikutnya (Taylor, 1989). Budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan,keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai anggota kemunitas setempat.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keselurahan hasil budi dan karyanya dan sebuah rencana untuk melakukan kegiatan tertentu (Leininger, 1991).
Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984), karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut : (1) Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis, (2) budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan, (3) budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.

Croos, T., Bazron, B., Dennis, K., and Isaacs, M ( 1989)  memberikan  acuan
lima (5) element budaya yang perlu diketahui dan mampu diimplemetasikan oleh seorang perawat dalam intervensi keperawatan yakni :
1.      menilai keanekaragaman budaya
2.      mempunyai kapasitas untuk meng-assessment budaya
3.      menjadari bahwa budaya bersifat dinamis dan inherent dalam ketika terjadi interaksi budaya
4.      mempunyai pengetahuan budaya yang  sudah dilembagakan
5.      mempunyai adaptasi yang terus menerus  dikembangkan dalam upaya merefleksikan  dan memamahami keanekaragaman budaya.
Kelima element di atas hendaknya akan selalu diwujudkan pada setiap langkah,perilaku layanan kepada pasien atau klien baik di rumah sakit maupun di masyarakat. Dengan kata lain seorang perawat kesehatan harus mampu mewujudkan peran atau fungsi seorang pe rawat mulai dari tingkat pelaksana, pengelola, pendidik sampai pada peneliti. Karena setiap perwujudan peran seorang perawat akan selalu berinteraksi dengan manusia atau klien.
Meyer CR, ( 1996 ) bahkan memberikan tuntutan empat hal  yang harus di punyai seorang perawat sebagai provider dalam mengimplementasikan kompetensi asuhan keperawatan yakni,
1). mempunyai kapabelitas menghadapi tantangan langsung perbedaan klinis dari klien yang berbeda suku dan ras,
2). mempunyai kemampuan komunikasi dalam mengha dapi klien yang beraneka ragam latar belakang,
3). mempunyai kapabelitas dalam bidang ethics,
4). mempunyai kapebelitas menumbuhkan kepercayaan.
Belajar terus menerus merupakan salam satu hal yang  harus menjadi milik seorang per-wat kesehatan. Transcultural Nursing  Knowledge akan menjadi milik seorang perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan bila dirinya terus dikembangkan dan mempunyai motivasi tinggi untuk terus melakukan evaluasi  pada setiap intervensi pada klien / pasien. Hal yang harus diingat bahwa trasncultural akan selalu terjadi pada setiap intervention nursing dan sifatnya dinamis.
Allah berfirman dalam Al-quran tentang perlu adanya pengenalan kebudayaan lain. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Sehingga dengan memahami serta melaksanakan konsep-konsep yang telah dikemukakan perawat mampu memberikan pelayanan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia dalam aspek pemenuhan kebutuhan bio psiko sosio maupun spiritual. Pengkajian kesehatan atau keperawatan yang komprehensif harus mempertimbangkan klien dari aspek budaya, keluarga, dan masyarakat. Seperti yang sudah disebutkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tap. MPR RI IV Tahun 1999, bahwa kita hidup di suatu pranata sosial yang majemuk. Sebagai mahluk-mahluk budaya telah sejak lama mengembangkan pranata-pranata sosial, teori-teori etiologi dan teknik-teknik pengobatan yang memungkinkan klien menanggulangi dislokasi sosial dan dislokasi lainnya, yang terjadi karena penyakit dan mengakibatkan ketidakmampuan. Sebagai seorang tenaga medis wajib mengajarkan budaya kepada setiap kliennya melalui tingkah laku dan bentuk-bentuk kepercayaan yang berlandaskan budaya, yang timbul sebagai respons terhadap ancaman-ancaman yang disebabkan oleh penyakit. Umtuk menunjang kinerja perawat yang berbudaya diperlukan  sifat adaptif dari suatu sistem medis, dan itu nampak jelas dari definisi Dunn yang baru ialah pola-pola dari pranata-pranata sosial dan tradisi-tradisi budaya yang menyangkut perilaku yang sengaja untuk meningkatkan kesehatan, meskipun hasil dari tingkah laku khusus tersebut belum tentu kesehatan yang baik (Dunn 1976 : 135).
Pranata- pranata utama dalam setiap kebudayaan berhubungan satu dengan lainnya serta memenuhi fungsi khusus dalam hubungannya dengan satu sama lain. Setiap  pranata amat penting bagi berfungsinya secara normal kebudayaan dimana pranata itu berada, dan sebaliknya memerlukan yang lainnya untuk kelanjutan eksistensinya. Pranata-pranata kesehatan tidak berbeda halnya. Sebagai contoh kepercayaan yang terhadap penyakit pada banyak masyarakat sangat terjalin erat dengan magis dan religi sehingga tidak mungkin untuk memisahkan keduanya.
Untuk mengatakan bahwa sistem medis yang di dalamnya terdapat salah satu unsur yaitu asuhan keperawatan adalah bagian yang integral dari kebudayaan, berarti memandangnya pada tingkatan dasar yang nyata. Namun sistem medis adalah bagian-bagian dari kebudayaan pada tingkatan yang lebih abstrak, yang dalam isi maupun bentuknya mencerminkan pola-pola dan nilai-nilai yang kurang nampak. Setiap kebudayaan telah mengembangkan suatu sistem kesehatan yang mendukung hubungan timbal-balik yang tidak luntur dalam pandangan hidup yang berlaku. Tingkah laku medis dari individu-individu dan kelompok-kelompok tidak akan dimengerti jika terpisah dari sejarah kebudayaan umum (Pellegrino 1963:10).      Dengan memahami aspek budaya klien, akan membantu kita memahami aspek klien secara individual dan mengidentifikasi pendekatan yang tepat. Memahami aspek budaya akan membantu kita mendeteksi kecenderungan klien terhadap masalah kesehatan yang ia alami. Pemahaman terhadap aspek budaya dalam keperawatan tidak saja menjadi kepedulian kita sebagai seoarang tenaga medis, namun sudah menjadi konteks global. Alasan lain bahwa seorang perawat harus memahami budaya adalah adanya keterkaitan antara budaya dengan variasi biologis. Para ahli antropologi fisik telah melakukan berbagai penelitian untuk menggali pengaruh variasi biologis pada status sehat dan sakit kelompok etnik tertentu. Pemahaman budaya ini juga membantu perawat dalam mengidentifikasi kebutuhan tertentu yang dipengaruhi oleh budaya, seperti kebutuhan untuk memperolah kesejajaran pelayanan kedokteran dan keperawatan, penghargaan nilai budaya termasuk agama, makanan, kebutuhan pribadi, rutinitas harian, komunikasi, dan kebutuhan terhadap keselamatan secara budaya, misalnya di pandang sebagai mitra, negosiasi, dan lingkungan yang kondusif  untuk mendukung adanya rasa selamat (Narayanasamy, 2002).
Kompetensi budaya dapat diartikan sebagai suatu integrasi yang kompleks antara pengetahuan, keterampilan, dan perilaku guna meningkatkan komunikasi trans-budaya (cross-cultural) dan interaksi yang tepat dengan orang lain (Andrews,1997). Perawat harus bisa mengintrospeksi tentang latar belakang dirinya. Perawat juga harus memiliki pengetahuan yang merupakan perbandingan antar kelompok. Keterampilan budaya termasuk pengkajian social maupun budaya yang mempengaruhi pengobatan dan perawatan klien. Pertemuan sebagai mediapembelajaran. Keinginan sebagai motivasi dan komitmen pelayanan. Kebutuhan perawat untuk memahami pengetahuan budaya dan mempunyai kompetensi budaya menjadi lebih penting pada abad ke-21 ini.  Beberapa pakar telah mendefinisikan pengertiam budaya dan kaitannya dengan keperawatan sehingga seorang perawat dapat mengetahui pengertian keperawatan transkultural yang dijelaskan oleh leininger. Keperawatan transkultural adalah suatu disiplin yang terfokus pada pengertian keperawatan, nilai, dan praktik dalam konteks budaya tertentu untuk menemukan dan menjelaskan cara keperawatan yang berbudaya dapat mempengaruhi kesehatan dan kesehjateraan seseorang, atau membantu seseorang dalam menghadapi kematian dan menerima kecacatan (Leininger, 1997).
Dimensi budaya dan struktur sosial tersebut menurut Leininger di pengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu teknologi, agama dan  falsafah hidup, faktor sosial dan kekerabatan. Peran perawatan pada transcultural nursing teory ini adalah menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan prosfesional melalui asuhan keperawatan. Eksistensi peran perawat tersebut digambarkan oleh leininger. Oleh  karena itu perawat harus mampu membuat keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat. Jika di sesuaikan dengan proses keperawatan, hal tersebut merupakan tahap perencanaan tindakan keperawatan.
Menurut Leininger (1995), keperawatan transkultural penting karena beberapa faktor, yaitu :
1.      Terjadi peningkatan imigrasi
2.      Terjadi peningkatan idealitas multikultural dalam pemahaman dan penghargaan pada perawat dan tenaga kesehatan lain
3.      Peningkatan teknologi kesehatan
4.      Konflik budaya yang terjadi berdampak pada interaksi budaya lain
5.      Terjadi peningkatan jumlah orang yang bekerja atau berwisata kenegara lain
6.      Terjadi peningkatan konflik budaya yang dihasilkan oleh praktik kesehatan
7.      Adanya emansipasi wanita dan gender
Globalisasi menyebabkan tuntutan asuhan keperawatan semakin besar. Perpindahan penduduk dan pergeseran tuntutan keperawatan dapat terjadi. Perawat yang tidak mampu menyesuaikan asuhan keperawatan terhadap kondisi yang ada akan menyebabkan penurunan kualitas pada pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, hal ini menyebabkan  dibutuhkannnya peningkatan terhadap profesi keperawatan. Asuhan keperawatan transkultural adalah salah satu bentuk asuhan keperawatan profesional yang secara kultural sensitif, sesuai, dan berkompeten, merupakan penyelenggaraan asuhan keperawatan lintas budaya dalam konteks pasien beserta lingkungan di mana masalah kesehatan pasien tersebut timbul (Kozier, Berman & Snyder: 2004).Peningkatan pengetahuan, koordinasi antar profesi atau tenaga kerja kesehatan lain sangat diperlukan. Perawat harus lebih aktif dalam menghadapi globalisasi terutama dalam pelayanan kesehatan.Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada pratik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu :
- Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
- Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
- Ketidak patuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini
Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap memperhatikan tiga perinsip asuhan keperawatan, yaitu :
1.            culture care preservation/maintenance
yaitu : prinsip  membantu,memfasilitasi,atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkatan kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan. Seperti halnya dibawah ini:
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
2.            Culture care accommodation/negatiation,
Yaitu : prinsip membantu,memfasilitasi, atau memperhatikan fenomena budaya,yang merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi,atau bernegosiasi atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atau klien. Seperti halnya dibawah ini :
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan   biomedis, pandangan klien dan standar etik.
3.            culture care repatterning/restructuring,
yaitu : prinsip merekonstruksi atau mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah lebih baik. Seperti halnya dibawah ini :
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan  melaksanakannya.
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu.
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan keluarga.
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Peningkatan permintaan untuk komunitas dan latar belakang budaya dalam konteks lingkungan.
Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan
yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan,
meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya
Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks budaya sangat diperlukan untuk
menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien.
Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi
tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan atau bahkan
mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu
saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya
klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat erat dengan perencanaan dan
pelaksanaan proses asuhan keperawatan transkultural. Dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985). Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
Teori keperawatan transkultural ini menekankan pentingnya peran keperawatan dalam memahami budaya klien. Pemahaman yang benar pada diri perawat mengenai budaya klien, baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat, dapat mencegah terjadinya kesenjangan sosial  seperti  culture shock maupun culture imposition.Cultural shock terjadi saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara efektif dengan kelompok budaya tertentu (klien) sedangkan culture imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan (perawat), baik secara diam-diam mauoun terang-terangan memaksakan nilai-nilai budaya, keyakinan, dan kebiasaan/perilaku yang dimilikinya pda individu, keluarga, atau kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa budayanya lebih tinggi dari pada budaya kelompok lain. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasiCultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan. Serta akan menimbulkan Konflik budaya yang dapat muncul dalam proses keperawatan. Konflik budaya yang muncul dapat berupa etnosentrisme, pemikiran bahwa cara hidup yang dianut lebih baik dibandingkan dengan budaya lain. Hal ini menyebabkan adanya pilihan untuk mengabaikan budaya dan menggunakkan nili-nili dan gaya hidup mereka sebagai petunjuk dalam berhubungan dengan klien dan menafsirkan tingkah laku mereka.
Transkultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Konsep yang dikembangkan Leininger merupakan konsep yang dikembangkan dari ilmu antropologi yang diintegrasikan dengan ilmu keperawatan. Konsep tentang keperawatan transkultural berfokus pada kebudayaan/ generic (emic) yang memberikan pelayanan kepada seseorang dengan pendekatan latar belakang kebudayaan. sehingga perawat mampu melakukan tindakan keperawatan yang sesuai dengan perilaku social seseorang. Dasar-dasar konsep tersebut perlu diketahui dan dipelajari oleh para perawat agar tidak adanya kebutaan budaya. Sehingga karena hal tersebut perawat tidak mampu memberikan pelayanan keperawatan yang berprinsip pada konsep caring.
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya. Dengan demikian jelas bahwa prospek social budaya dalam pelayanan kesehatan khususnya keperawatan adalah untuk menerapkan pendekatan antropologi yang berorintasi pada keaneka ragaman budaya baik antar budaya maupaun lintas budaya terhadap asuhan keperawatan yang tidak membedakan perbedaan budaya dan melaksanakan sesuai dengan hati nurari dan sesuai dengan standar penerapan tanpa membedakan suku, ras, budaya, dan lain-lian
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa keterkaitan lintas budaya pasien dengan asuhan keperawatan yang di berikan perawat?
2.      Mengapa perawat harus memahami budaya pasien dalam memberikan asuhan keperawatan?
3.      Bagaimana tindakan perawat menghadapi budaya pasien yang beraneka ragam?
4.      Bagaimana perawat beradaptasi dengan budaya pasien yang beraneka ragam?






1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pentingya memahami lintas budaya dalam memberikan asuhan keperawatan
1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Untuk mengkaji keterkaitan budaya klien dengan asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat.
2.      Untuk mengkaji tindakan perawat menghadapi budaya klien yang beraneka ragam.
3.      Untuk mengkaji cara perawat beradaptasi dengan budaya klien yang beraneka ragam
4.      Untuk  mengkaji pemahaman perawat tentang budaya pasien dalam memberikan asuhan keperawatan
1.4  Manfaat  penulisan
1.4. 1 Manfaat  teoritis
Untuk memberikan kontribusi dan memperluas wawasan dalam mengkaji pentingya memahami lintas budaya dalam memberikan asuhan keperawatan.
1.4.2 Manfaat praktis
Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari hasil penelitian ini, antara lain:
Ø  Bagi pembaca :
1.      Memberikan informasi tentang Pentingya memahami lintas budaya dalam memberikan asuhan keperawatan
Ø  Bagi penulis :
1.      Melatih dalam menyusun karya ilmiah.
2.      Memotivasi untuk menyusun karya ilmiah selanjutnya yang lebih baik.
3.      penulisan ini merupakan suatu wadah untuk mengaktualisasikan kreativitas dan sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kemampuan penulis didalam rencana penulisan karya ilmiah.
4.      Bagi penulis yang akan datang, rencana penulisan karya ilmiah  ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi penulis selanjutnya.
Ø  Bagi tenaga pengajar :
1.      Dapat memberikan apa yang terbaik bagi mahasiswa didiknya ketika melaksanakan proses KBM dalam kelas
1.5  Definisi Istilah atau Definisi Operasioanal
Ø  Bila ditinjau dari makna kata , transkultural berasal dari kata trans dan culture, Trans berarti aluar perpindahan , jalan lintas atau penghubung.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; trans berarti melintang , melintas , menembus , melalui.
Cultur berarti budaya . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :
-    kebudayaan , cara pemeliharaan , pembudidayaan.
-    Kepercayaan , nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya , sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.
Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.
Dan kebudayaan berarti :
-    Hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan , kesenian dan adat istiadat.
-    Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunya
Jadi , transkultural dapat diartikan sebagai :
-    Lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain
-    Pertemuan kedua nilai – nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial
-    Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai– nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda , ras , yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien ). Menurut Leininger ( 1991 ).
Ø  Keperawatan lintas budaya merupakan bidang studi dan praktik formal yang berfokus pada analisis komparatif budaya dan sub budaya di dunia dalam kaitanya dengan keperawatan kultural, kepercayaan tentang kesehatan dan penyakit, nilai-nilai dan praktik yang bertujuan untuk menggunakan pengetahuan ini dalam memberikan perawatan sesuai budaya tertentu atau sesuai budaya universal kepada semua orang (Leininger,1978). Keperawatan lintas budaya memberikan kerangka budaya kerja untuk memenuhi kebutuhan keperawatan kesehatan dari kelompok dengan latar budaya beraneka ragam. Dalam melakukan pencapaian keperawatan ada 6 fenomena kultural yang dipertimbangkan, yaitu :
1. Komunikasi : verbal, non verbal bahasa utama
2. Ruang pribadi : tindakan lebih menonjol dari kata-kata
3. Organisasi sosial : Prilaku didapat, ciri khas budaya, nilai-nilai berorientasi internal, kepercayaan keagamaan, pembuatan keputusan dalam keluarga.
4. Waktu : cara mengkaji waktu, konsep waktu
5. Lingkungan : mengevaluasi sistem kesehatan, lokus kontrol
6. Variasi biologis : struktur tubuh, genetik, atribut fisik, karakteristik psikologis Mendorong potensi perawat untuk memberikan secara cermat arti diversivitas bukan realitas masa depan tetapi tantangan masa kini dan kesempatan untuk berkembang (Hagivary,1192).
Ø  Keperawatan transkultural merupakan suatu arah utama dalam keperawatan yang berfokus pada study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub budaya yang berbeda di dunia yang menghargai perilaku caring, layanan keperawatan, niai-nilai, keyakinan tentang sehat sakit, serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan mengembangkan body of knowladge yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya universal (Marriner-Tomey, 1994). Teori keperawatan transkultural ini menekankan pentingnya peran keperawatan dalam memahami budaya klien.
Ø  Teory keperawatan transkultural matahari terbit, sehinnga di sebut juga sebagai sunrise modelmatahari terbit (sunrise model ) ini melambangkan esensi keperawatan dalam transkultural yang menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (worldview) tentang dimensi dan budaya serta struktur sosial yang, bersyarat dalam lingkungan yang sempit.
Ø  Transcultural Nursing Theory adalah teori yang berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock.

Ø  Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
Ø  Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995).
Ø  Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya.
Ø  Kazier Barabara ( 1983 ) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic , philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial . Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho – social – spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus holistic.

Ø  Menurut Dr. Madelini Leininger , studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya . Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ) , baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan . Lininger berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.
Ø  Teori Madeleine Leininger menyatakan bahwa kesehatan dan care dipengaruhi oleh elemen- elemen beerikut yaitu: Struktur sosial seperti teknologi, kepercayaan dan factor filosofi , sistem sosial, nilai-nilai cultural , politik dan faktor-faktor legal, faktor-faktor ekonomi, dan faktor-faktor pendidikan . Faktor sosial ini berhubungan dengan konteks lingkungan, bahasa dan sejarah etnis, masing-masing sistem ini merupakan bagian struktur sosial.Pada setiap kelompok masyarakat ; pelayanan kesehatan , pola-pola yang ada dalam masyarakat daan praktek-praktek yang merupakan bagian integral dari aspek-aspek struktur sosial (Leineinger dan MC Farland 2002).
Ø  Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leininger ,1978 ).keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis ,yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok ,serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya ( Leininger ,1984 ).pelayanan keperawatan traskultural diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
Ø  Paradigma keperawatan transkultural adalah cara pandang ,persepsi,keyakinan, nilai-nilai , dan konsep-konsep dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap konsep sentral, yaitu manusia ,keperawatan , kesehatan , dan lingkungan ( Leininger ,1984 ,Andrew & Boyle ,1995 & Barnim , 1998 ).
Ø  Keperawatan transkultural adalah Mengetahui nilai-nilai pelayanan budaya klien, arti, kepercayaan, dan praktiknya sebagai hubungan antara perawat dan pelayanan kesehatan mewajibkan perawat untuk menerima aturan pelajar atau teman sekerja dengan klien dan keluarganya dalam bentuk karakteristik arti dan keuntungan dalam pelayanan (Leininger, 2002).
Ø  Keperawatan transkultural adalah keperawatan yang berfokus pada studi komparatif dan analisa pada perbedaan budaya. Keperawatan ini berhubungan dengan kepedulian akan perilaku, keperawatan, dan nilai sehat-sakit, serta kepercayaan mereka. Tujuannya adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan untuk memberikan keperawatan dalam kebudayaan khusus dan kebudayaan universal.
Ø  Asuhan keperawatan transkultural adalah salah satu bentuk asuhan keperawatan profesional yang secara kultural sensitif, sesuai, dan berkompeten, merupakan penyelenggaraan asuhan keperawatan lintas budaya dalam konteks pasien beserta lingkungan di mana masalah kesehatan pasien tersebut timbul (Kozier, Berman & Snyder: 2004).
Ø  Menurut Giger dan Davidhizar
-          Definisi keperawatan transklutural
Merupakan kompetensi yang fokus pada klien.
-          Perbedaan budaya keperawatan
Variasi dalam pendekatan keperawatan dibutuhkan untuk menyesuaikan budaya.
-          Budaya individu yang unik
Masing-masing individu mempunyai budaya yang unik yang dibentuk dari pengalaman, budaya, kepercayaan, dan norma.
-          Budaya lingkungan
-          Budaya dalam lingkungan sangat berpengaruh dalam proses keperawatan.
Ø  Dalam model sunrisenya Leineinger menampilkan visualisasi hubungan antara berbagai konsep yang signifikan. Ide pelayanan dan perawatan (yang dilihat Leineinger sebagai bentuk tindakan dari asuhan ) merupakan inti dari idenya tentang keperawatan. Memberikan asuhan merupakan jantung dari keperawatan. Tindakan membantu didefinisikan sebagai prilaku yang mendukung. Menurut Leininger bantuan semacam itu baru dapat benar-benar efektif jika latarbelakang budaya pasien juga dipertimbangkan, dan bahwa perencanaan dan pemberian asuhan selalu dikaitkan dengan budaya.
Ø  Model matahariterbit (sunrise model) ini melambangkan esensi keperawatan dalam transcultural yang menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (world view) tentang dimensi dan budaya serta struktur social yang berkembang di berbagai belahan dunia (secara global) maupun masyarakat dalam lingkup yang sempit.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Untuk menunjang penelitian ini telah dilakukan beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Pentingya memahami lintas budaya dalam memberikan asuhan keperawatan.
v  Pertama :
1.      Judul : ASPEK ETNIK DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN
2.      Identitas peneliti :
1)   Nur Fatayati (C) 100 2010 726
2)   Rini Yolanda Eka P. (C) 100 2010 728
3)   Tias Kusuma R. (C) 100 2010 736
4)   Bachtiar Rohman F. (A) 10.02.01.0603
5)   Bayu Surya A. (A) 10.02.01.0604
6)   Aris Yunus P. (B) 10.02.01.0651
7)   Aris Suwanto (B) 10.02.01.0650
3.      Tahun Penelitian : 2010-2011
4.      Bentuk naskah : Makalah penelitian
5.      Masalah yang diangkat :
Mr.xx umur 17 tahun, setatus lajang, agama islam, suku jawa, pekerjaan pelajar,sekolah di SMA negeri 2 Bojonegoro, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah b.jawa, sering makan makanan pedas, orang tua lahir di Bojonegoro, Mr.xx dibesarkan di Bojonegoro, dia tinggal bersama kedua orang tuanya, anak pertama dari dua bersaudara.Saat ini Mr.xx dirawat di ruang B bagian penyakit ringan dalam rumah sakit V , Sudah 2 hari mr.xx dirawat dengan keluhan nyeri diperutnya, Mr.xx menggunakan ramuan tradisional dalam penangannya sebelum dibawa ke rumah sakit, yaitu meminum air yang sudah di bacakan mantra yang di campurkan dengan bunga oleh orang yang dianggap pintar dalam bidang tersebut yang sering lita sebut dukun. Kondisi Mr.xx sudah menukjukkan perubahan, seperti nyeri berkurang, mual hilang , nafsu makan bertambah, mr.xx dianjurkan agar tidak sering makan makanan pedas dulu.
6.      Teori yang digunakan : menerapkan konsep etnik dan budaya yang meliputi control lingkungan, variasi biologi, organisasi sosial .
1.      Pengkajian
      Bila mengacu pada konsep etnik dan budaya hal-hal yang perlu di kaji adalah control lingkungan, variasi biologi, dan organisasi sosial, dan data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
a.       Kontrol lingkungan : umur 17 tahun, agama islam, suku jawa, lahir di bojonegoro, kedua orang tua beragama islam, bahasa keseharian b.jawa, sebelumnya menggunakan penyembuhan tradisional yitu dengan minum air yang di campur bunga dan dibacakan mantra.
b.      Variasi biologi : struktur dan tubuh kecil umumnya orang Indonesia, warna kulit sawo matang, suka makanan yang pedas, berasal dari etnik dan budaya jawa.
c.       Organisasi social : hidup dilingkungan keluarga kecil, berorganisasi disekolahnya, tidak ikut organisasi social di masyarakat.
7.      Metode penelitian : Wawancara, wawancara adalah suatu cara yang digunakan untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan dan pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap berhadapan muka (Koentjaraningrat)
8.      Hasil penelitian : Berdasarkan hasil pengkajian dan analisis data beberapa diagnose keperawatan yang dapat ditegakkan pada Mr.xx adalah :
a.    Nyeri akut
b.   Mual
c.    Muntah muntah
d.   Intoleransi aktifitas
e.    Self care deficit
f.    Intoleransi pengobatan magisoreligius
Ø  Evaluasi :
a.    Nyeri hilang
b.   Mual berkurang
c.    Tidak lagi muntah
d.   Mampu melakukan perawatan diri
e.    Mr.xx dapat melakukan aktifitas
f.    Berubahnya keyakinan tentang kesehatan yang didasari kultur
v  Kedua :
1.      Judul : ASUHAN KEPERAWATAN BUDAYA TRANSKULTURAL PADA ANAK
2.      Identitas peneliti : Donny Nurhamsyah (11130032)
3.      Tahun penelitian : 2012
4.      Bentuk naskah : Makalah asuhan keperawatan
5.      Masalah yang diangkat :
An. A 8 tahun, suku Padang, Beragama islam diantarkan orangtuanya ke Rumah Sakit Harapan Kita dengan keluhan nyeri pada tulang keringnya. Bp. A mengatakan nyerinya timbul akibat An. A memanjat pohon yang dikeramatkan di desanya, kemudian menurut kepercayaan orang sekitar An. A terjatuh akibat didorong oleh penunggu pohon keramat tersebut. Menurut cerita yang dikatakan Bp.A saat anaknya Jatuh langsung dibawa kedukun, lalu A,n,n. A dipijit menggunakan batang sereh yang dibakar dengan bacaan doa-doa. Bp. A mengatakan An. A dilarang mengkonsumsi makanan seperti ikan, daging, dan telur. An. A juga tampak lemah dan lesu ,pada saat diberikan Penkes Bp. A masih terlihat kebingungan.
6.      Teori yang digunakan : teori medeleine leininger
Keperawatan transkultural merupakan istilah yang sering digunakan dalam cross-cultural atau lintas budaya, intercultural atau antar budaya, dan multikultural atau banyak budaya (Andrews,1999). Leininger merupakan ahli antropologi keperawatan sejak pertengahan lima puluhan yang merencanakan bahwa transkultural nursing merupaer mendefinisikan “transkultural Nursing"kan area formal yang harus diaplikasikan dalam praktik keperawatan (leininger,1999;McFarland,2002). Leininger mendefinisikan”transkultural Nursing” sebagai area yang luas dalam keperawatan yang mana berfokus pada komparatif studi dan analisis perbedaan kultur dan subkultur dengan menghargai perilaku caring, nursing care dan nilai sehat-sakit, kepercayaan dan pola tingkah laku dengan tujuan perkembangan ilmu dan humanistic body of knowledgeuntuk kultur yang spesifik dan kultur yang universasl dalam keperawatan (Andrews and Boyle,1997: Leininger dan McFarland,2002). Tujuan dari transkultural dalam keperawatan adalah kesadaran dan apresiasi terhadap perbedaan kultur. Selain itu juga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam keperawatan yang humanis sehingga terbentuk praktik keperawatan sesuai dengan kultur dan universal (leininger,1978).
7. Metode penelitian : pengkajian transkultural yang dirancang dengan 7 komponen yaitu :
1)      Faktor teknologi (technological factors)
2)      Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
3)      Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
4)      Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (culture value and life ways)
5)      Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
6)      Faktor ekonomi (economical factors)
7)      Faktor pendidikan (educational factors)

8.  Hasil penelitian : 
Adapun diagnosa yang muncul pada An. A adalah sebagai berikut :
1.      Risiko nutrisi berhubungan dengan kepercayaan tentang niali budaya terhadap makanan.
2.      Risiko infeksi berhubungan dengan penggunaan obat tradisional.
3.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kepercayaan tentang efektifitas perilaku promosi kesehatan.
Diagnosa diatas diambil berdasarkan kondisi yang dialami pasien dan di aplikasikan dari NANDA 2012 dan teori Sunrise Model. Dimana klien masalah yang dihadapi klien disebabkan oleh faktor eksternal seperti lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Selain itu faktor kebiasaan dalam keluarga dan lingkungan juga berpengaruh dalam hal ini. Setelah diagnosa atau masalah keperawatan ditegakkan selanjutnya dilakukan pembuatan rencana tindakan dan kriteria hasil untuk mengatasi masalah keperawatan yang ada pada klien.





v  Ketiga :
1. Judul : PERSPEKTIF TRANSKULTURAL DALAM KEPERAWATAN
2.Identitas peneliti : Evi Hidayati                            1106053086
                    Ismi Arummaning tyas            1106053395
                    Puji Mentari                            1106053344
                    Putri Kurniasih                        1106000533
                    Shopiati Merdika N                1106012741
                    Sri Darmayanti                        1106089022
3. Tahun penelitian : 2011
4. Bentuk naskah : Makalah
5. Masalah yang diangakat :
Etnofarmakologi dan Nutrisi dalam Perspektif Transkultural dalam Keperawatan.  Seorang pasien perempuan berusia 35 tahun masuk kerumah sakit karena keluhan perdarahan melalui vagina. Kondisi pasien lemah dan pasien dinyatakan mengalami anemia, kadar hemoglobinnya 5 g/dL. Pasien direncanakan untuk segera mendapatkan transfusi darah. Ketika perawat menjelaskan rencana tersebut, pasien menolak karena menurutnya hal tersebut bertentangan dengan keyakinannya. Perawat berusaha untuk membicarakan hal ini dengan suami pasien namun suami pasien bekerja di luar kota dan tidak dapat dihubungi. Pada saat ini pasien hanya ditemani oleh ibunya.
6.Teori yang digunakan : Menurut Leininger (2002), Transcultural Nursing adalah studi budaya pada proses belajar dan praktik keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan di antara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia.
7. Metode penelitian : Metode yang dilakukan dalam membahas masalah ini adalah dengan Metode PBL (Problem Based Learning), yaitu Metode yang membahas suatu kasus untuk dianalisis dan Metode Studi Pustaka yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang terkait dengan masalah yang dijadikan penulisan dalam hal ini adalah Berpikir kritis dalam pengambilan keputusan dan diagnosa keperawatan.
8. Hasil penelitian :
1.      Melakukan pengkajian
Dari kasus tersebut, didapatkan data-data sebagai berikut:
                            a.         pasien wanita usia 35 tahun
                            b.         perdarahan melalui vagina
                            c.         kadar Hb rendah, yaitu 5 g/dL
                            d.         menolak transfusi darah karena keyakinannya
                            e.         kondisi pasien lemah
                            f.          suami tidak dapat dihubungi
                            g.         ditemani oleh ibu
2.      Melakukan diagnosa keperawatan dan merencanakan asuhan keperawatan dengan pendekatan transkultural. Dari data-data yang didapatkan, perawat menyusun diagnosa keperawatan dalam perspektif transkultural. Artinya, diagnosa keperawatan yang disusun untuk kemudian digunakan sebagai acuan penyusunan rencana asuhan keperawatan harus sesuai dengan budaya klien agar tidak terjadi cultural shock.
3.      Membicarakan rencana asuhan keperawatan kepada ibu klien.
Rencana asuhan keperawatan yang dibuat, antara lain transfusi darah, harus dilakukan kepada keluarga pasien. Karena suami pasien sedang tidak ada dan tidak dapat dihubungi sedangkan pasien harus mendapat penanganan segera, maka hal ini disampaikan pada ibu pasien yang menemani. Adanya peran serta keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan sangat penting untuk meningkatkan kondisi klien. Penyampaian rencana asuhan keperawatan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien dan keluarga klien.
4.      Menginformasikan akibat jika klien tidak di transfusi.
Perawat berusaha meyakinkan ibu klien bahwa transfusi darah merupakan tindakan yang sangat penting dan merupakan pilihan utama. Perawat harus menyampaikan hal ini pada keluarga klien dan pada klien itu sendiri dengan cara yang tepat, agar tidak terkesan mengancam atau menakut-nakuti.
5.      Memberi asupan-asupan nutrisi yang bisa meningkatkan atau menunjang pembentukan darah.
Selama pasien diberi penjelasan dan diyakinkan mengenai pentingnya transfusi darah, perawat harus memberi asupan-asupan nutrisi yang dapat mempercepat atau menunjang pembentukan darah dalam tubuh pasien untuk meningkatkan kadar Hb pasien, di antaranya adalah zat besi (Fe). Asupan nutrisi dapat berupa makanan, minuman, atau suplemen, bahkan dapat berupa suntikan. Tentu saja pemberian nutrisi tidak boleh terlalu berlebihan, karena dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan kesehatan baru pada pasien.
v  Keempat :
1.          Judul : PERSPEKTIF TRANSKULTURAL DALAM KEPERAWATAN DAN APLIKASI TRANSKULTURALPADA BEBERAPA MASALAH KESEHATAN
2.      Identitas peneliti :       Esra Devi Tarida L, 1106053092
Ihda Fakhriyana Istikarini, 1106053413
Mersiliya Sauliyusta, 1106000792
Rizki Annisa Rahardhiani, 1106014122
Rosanita Intan Pratiwi, 1106089092
Umi Barokah, 1106053350           
3.      Tahun penelitian : 2011
4.      Bentuk penelitian : Makalah
5.      Masalah yang diangkat :
Kasus diabetes dapat ditinjau dari transkultural keperawatan bahwa budaya seseorang terkhususnya dalam makanan memepengaruhi resiko terkena diabetes dan menjadi faktor pertimbangan dalam memberikan asuhan keperawatan agar berjalan efektif.Kebanyakan manusia bervariasi sekitar 82-110 mg/dl pada keadaan sebelum makan. Setelah makan akan naik sekitar 140 mg/dl. The American Diabetes Association merekomendasikan kadar glukosa pasca-makan <180 mg/dl dan pra-makan pada kadar 90-130 mg/ dl. Pada laki-laki dewasa sehat denagn berat 75 kg dan volume 5 liter darah, glukosa levelnya 110 mg/dl. Pada penderita diabetes, kadar glukosa saat puasa >126 mg/ dl dan saat normal >200 mg/ dl.
6.      Teori yang digunakan :
 Teori keperawatan transkultural didefinisikan oleh Leininger (2002) sebagai penelitian perbandingan budaya untuk memahami persamaan (budaya universal) dan perbedaan (budaya tertentu) di antara kelompok manusia. Tujuan keperawatan transkultural adalah bentuk pelayanan yang sama secara budaya atau pelayanan yang sesuai pada nilai kehidupan individu dan arti yang sebenarnya. Mengetahui nilai-nilai pelayanan budaya klien, arti, kepercayaan, dan praktiknya sebagai hubungan antara perawat dan pelayanan kesehatan mewajibkan perawat untuk menerima aturan pelajar atau teman sekerja dengan klien dan keluarganya dalam bentuk karakteristik arti dan keuntungan dalam pelayanan (Leininger, 2002).
7.       Metode penelitian
Metode yang dilakukan dalam membahas masalah ini adalah dengan Metode PBL (Problem Based Learning), yaitu Metode yang membahas suatu kasus untuk dianalisis dan Metode Studi Pustaka yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang terkait dengan masalah yang dijadikan penulisan dalam hal ini adalah Berpikir kritis dalam pengambilan keputusan dan diagnosa keperawatan.
8.      Hasil penelitian :
a. Masalah yang ditemukan pada kasus tersebut, diantaranya :
v   Laki-laki usia 50 tahun,
v   Pingsan saat rapat di kantornya,
v   Kadar gula darahnya mencapai 450mg/dl,
v   Dua tahun didiagnosis menderita Diabetes Mellitus tipe II,
v   Kegemukan, dan
v   Kesulitan mengatur makanannya karena kebiasaan budaya Jawanya makan makanan yang manis.
b.  Analisis kasus
Ditinjau dari keadaan fisik :
-          Kegemukan
-          Kadar gula darah di atas normal
Ditinjau dari pola hidup :
-          Kurang aktivitas fisik
-          Banyak mengkonsumsi makanan mengandung gula
            c.  Peran perawat
o   Memberi interferensi berupa konsultasi, penyuluhan komunitas dan pasien,bantuan dalam menjaga pola makan dan melakukan implementasi independent dari dokter berupa pemberian obat dan aturan pemakaian.
o   Memberikan pelayanan kesehatan selama medikasi di rumah sakit dan menjaga kondisi kesehatan pasien agar tidak menurun bahkan meningkatkan kondisi kesehatannya.
d.  Peran dari segi transkultural
o   Memberi pendidikan kesehatan komunitas menyangkut deskripsi DM, diet dan bahayanya
o   Mengkaji jenis makanan yang biasa dikonsumsi komunitas tersebut
o   Menghimbau pola makan yang sesuai untuk diet DM dan juga dapat diterima pada budaya pasien→dapat berupa mengganti gula yang ditolerir oleh penderita DM atau mengurangi konsumsi gula yang biasa digunakan.
2.2 Teori Yang Digunakan
Teori dan model konsep keperawatan Transkultural
Ø  Konsep teori medeleine leininger
Pada akhir 1970 medeleine leininger membuat model konseptual tentang pemberian traskultural. Konsepnya ´sunrise modelµ di publikasikan di berbagai buku dan artikel jurnal dan menarik banyak perhatian dari berbagai penjuru dunia (leninger, 1984). Yang kemudian diakui public pada tahun 1998.  Setelah menyelesaikan pendidikanya sebagai perawat  psikiatrik, leninger melanjutkan studinya di bidang antropologi cultural. Hal ini menghasilkan di kembangkannya konsep kerangka kerja pemberian asuhan transkultural, yang mengakui adanya perbedaan (diversitas), dan persamaan (universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda.
Beberapa inti dari model teorinya
1.       Asuhan membantu, mendukung atau membuat seorang atau kelompok yang memiliki kebutuhan yang memiliki kebutuhan  nyata agar mampu memperbaiki jalan hidup dan kondisinya.
2.       Budaya diekspresikan sebagai norma-norma dan nilai nilai kelompok tertentu.
3.       Asuhan transkultural perawat secara sadar mempelajari norma- norma nilai nilai dan cara hidup budaya tertentu dalam rangka memberikan bantuan dan dukungan dengan tujuan untuk membantu individu mempertahankan tingkat kesejahteraanya.
4.       Diversitas asuhan cultural Keanekaragaman asuhan kultural mengakui adanya variasi dan rentang kemungkinan tindakan dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.
5.       Universsalitas asuhan kulturalasuhan kultural merujuk pada persamaan atau karakteristik universal, dalam hal memberikan bantuan dan dukungan
Ø  Perbedaan budaya menurut  Leininger

· PRESERVASI ASUHAN KULTURAL
Preservasi asuhan cultural berarti bahwa keperawatan melibatkan penghargaan yang penuh terhadap pandangan budaya dan ritual pasien serta kerabatnya.
·   ADAPTASI ASUHAN K ULTUR AL
Bertentangan dengan preservasi asuhan kultural, adaptasi asuhan kultural melibatkan negosiasi dengan pasien dan kerabatnya dalam rangka menyesuaikan pandangan dan ritual tertentu yang berkaitan dengan sehat, sakit, dan asuhan.
·  REKONSTRUKSI ASUHAN KULTURAL
Rekonstruksi asuhan kultural melibatkan kerjasama dengan pasien dan kerabatnya dalam rangka membawa perubahan terhadap perilaku mereka yang berkaitan dengan sehat, sakit, dan asuhan dengan cara yang bermakna bagi mereka.


1.      Pengertian teori Transkultural
Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan oleh Dr. M. leininger dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
 Transkultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.
2. Konsep dalam Transkultural Nursing
a. Budaya
Adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
b. Nilai budaya
Adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu danmelandasi tindakan dan keputusan.
c. Perbedaan budaya
Dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yangoptimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinanvariasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhanbudaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
c. Etnosentris
Diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain. adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik.
e. Etnis
Berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
f. Ras
Adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia
g. Etnografi
Adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
h. Care
Adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
i. Caring
Adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
j. Cultural Care
Berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

k. Culturtal imposition
Berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lainkarena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.
3. Paradigma Transkultural Nursing
Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transkultural sebagai cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan (Andrew and Boyle, 1995), yaitu :
-. manusia,
-. sehat,
-. lingkungan dan
- Keperawatan.
·         Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995). Klien yang dirawat di rumah sakit harus belajar budaya baru ,yaitu budaya rumah sakit ,selain membawa budayanya sendiri.Klien secara aktif memilih budaya dari lingkungan ,termasuk dari perawat dan semua pengunjung di rumah sakit.klien yang sedang dirawat belajar agar cepat pulih dan segera pulang ke rumah untuk memulai aktivitas hidup yang lebih sehat.


·         Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat dan sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995). Kesehatan adalah keseluruhan aktivitas yang dimiliki klien dalm mengisi kehidupanya ,yang terletak pada rentang sehat sakit (Leininger , 1978 ).Kesehatan merupakan suatu keyakinan ,nilai ,pola kegiatan yang dalam konteks budaya digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat ,yang dapat diamati dalam aktivitas sehari-hari ( Andrew & Boyle ,1995 ).Kesehatan menjadi focus dalam interaksi antara perawat dank lien. Menurut Depkes (1999 ) ,sehat adalah keadaan yang memungkinkan seorang produktif.Klien yang sehat adalah yang sejahtera dan seimbang secara berlanjut dan produktif.Produktif bermakna dapat menumbuhkan dan mengembangkan kualitas hidup secara optimal.Klien memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memfungsikan diri sebaik mungkin di tempat ia berada. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama ,yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Leininger ,1978 ).Asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan klien memilih secara aktif budaya yang sesuai dengan status kesehatannya. Untuk memilih secara aktif budaya yang sesuai dengan status kesehatannya, klien harus mempelajari lingkunganya.Sehat yang akan dicapai adalah kesehatan yang holistic dan humanistic karena melibatkan peran serta klien yang lebih dominan.
·         Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupandimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, iwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.  Lingkungan adalah keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan ,keyakina,dan perilaku klien.Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehiduapan klien dan budayanya.Ada tiga bentuk lingkungan yaitu lingkungan fisik ,sosial, dan simbolik (Andrew & Boyle ,1995 ).Ketiga bentuk lingkungan tersebut berinteraksi dengan diri manusia membentuk budaya tertentu.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau lingkungan yang diciptakan oleh manusia , seperti daerah khatulistiwa, pegunungan , pemukiman padat , dan iklim tropis ( Andrew & boyle, 1995 ). Lingkungan fisik dapat membentuk budaya tertentu, misalnya bentuk rumah di daerah panas yang mempunyai banyak lubang , berbeda dengan bentuk rumah orang Eskimo yang hampir tertutup rapat ( Andrew & Boyle ,1995 ).Daerah pedesaan atau perkotaan dapat menimbulkan pola penyakit tertentu, seperti infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Indonesia lebih tinggi di daerah perkotaan ( Depkes ,1999 ).Bring ( 1984 dalam Kozier &Erb ,1995 ) menyatakan bahwa respon klien terhadap lingkungan baru, misalnya rumah sakit dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini klien.
Semua faktor tersebut berbeda pada setiap negara atau area, sesuai dengan kondisi masing-masing daerah, dan akan mempengaruhi pola/cara praktik keperawatan. Semua langkah perawatan tersebut ditujukan untuk pemeliharaan kesehatan holistik, penyembuhan penyakit,dan persiapan kematian.oleh karena itu harus dikaji perawat sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sebab masing-masing faktor mempengaruhi terhadap ekspresi,pola,praktik keperawatan.Dengan demikian faktor tersebut besar kontribusinya terhadap pencapaian kesehatan secara holistik.Dari faktor tersebut masuk kedalam level pertama yaitu tahap pengkajian.
·         Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam melaksanakan asuhan keperawatan(Leininger, 1991) adalah :
-. Strategi I, Perlindungan/mempertahankan budaya.
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,misalnya budaya Berolah raga setiap pagi
-. Strategi II, Mengakomodasi/negoasiasi budaya.
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang.
-. Strategi III, Mengubah/mengganti budaya klien
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki us kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.
4.Proses keperawatan Transkultural.
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew andBoyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1.      Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada “Sunrise Model” yaitu :
a.  Faktor teknologi (technological factors)
Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka perawat perlu mengkaji berupa : persepsi pasien tentang penggunaaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini, alasan mencari bantuan kesehatan.
b.   Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors) Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yangamat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawatadalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c.    Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors) Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : namalengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, danhubungan klien dengan kepala keluarga.
d.    Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways) Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkanoleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
e.     Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors) Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segalasesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhankeperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikajipada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
f.    Faktor ekonomi (economical factors) Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.
g.   Faktor pendidikan (educational factors) tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri.
5. Diagnosa keperawatan transkultural
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnose keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu :
-. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
-. Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
-. Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.         
6.Perencanaan dan Pelaksanaan keperawatan trnaskultural
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995).
Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu :
-. Mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan,
-. Mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan
-. Merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
 a. Cultural care preservation/maintenance 
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural care accomodation/negotiation 
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik. 
c. Cultural care repartening/reconstruction 
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya.
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok 3) Gunakan pihak ketiga bila perlu.
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan keluarga.
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
7.Evaluasi asuhan keperawatan transkultural
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
8. Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural
Jika pemahaman mengenai latar belakang etnik, budaya, dan agama yang berbeda antar klien baik, maka akan dapat meningkatkan pemberian asuhan keeperawatan secara efektif. Kozier (2004) menjelaskan beberapa konsep yang berhubungan dengan asuhan keperawatan transkultural ini. Diantaranya:
1.      Subkultur
Sebuah subkultur biasanya terdiri dari orang-orang yang mempunyai suatu identitas yang berbeda. Namun masih dihubungkan dengan suatu kelompok yang lebih besar.
2.      Enkultural
Enkultural digunakan untuk mendeskripsikan orang yang menggabungkan (persilangan) dua budaya, gaya hidup, dan nilai-nilai (Giger & Davidhizar, 1999).



3.      Keanekaragaman
Keanekaragaman menunjuk pada fakta atau status yang menjadikan perbedaan. Diantaranya, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, etnik kebudayaan, status ekonomi-sosial, tingkat pendidikan, dan lain-lain.
4.      Akulturasi
Proses akulturasi terjadi saat seseorang beradaptasi dengan ciri budaya lain. Anggota dari sebuah kelompok budaya yang tidak dominan seringnya terpaksa belajar kebudayaan baru untuk bertahan. Hal ini juga dapat didefinisikan sebagai perubahan pola kebudayaan terhadap masyarakat dominannya (Spector, 2000).
5.      Asimilasi
Asimilasi merupakan proses seorang individu berkembang identitas kebudayaannya. Asimilasi berarti menjadi seperti anggota dari kebudayaan yang dominan. Beberapa aspeknya, seperti tingkah laku, kewarganegaraan, ciri perkawinan, dan sebagainya. Di sini, seseorang atau kelompok kehilangan beberapa kebudayaan aslinya untuk kemudian membentuk kebudayaan baru bersama dengan yang lain. Hal ini ditujukan untuk membentuk interaksi yang baik.
9. Prinsip-prinsip asuhan keperawatan transkultural
1.Semua kebudayaan manusia mempunyai gaya hidup, asuhan keperawatan,
dan metode pengobatan yang berbeda, dan perawat harus memahami untuk dapat bekerja secara efektif dengan orang lain.
                        2.Asuhan keperawatan adalah kebutuhan dasar manusia dan merupakan fokus dominan pada keperawatan.
3.Memahami kebudayaan sendiri adalah langkah penting pertama untuk dapat memahami kebudayaan lain.
                        4.Tiap orang memiliki hak untuk dihormati, dipahami, dikenal nilai budayanya, dan mendapatkan asuhan keperawatan dan pelayanan kesehatan yang lain.
5.Asuhan keperawatan transkultural berhubungan dengan kepercayaan, perbandingan nilai, dan praktik kebudayaan tertentu untuk menyediakan praktik layanan kesehatan yang spesifik, aman, dan berarti.
6.Perawat menggunakan pengetahuan asuhan budaya humanis dan ilmiah untuk menyediakan asuhan keperawatan pada klien dengan kebudayaan yang berbeda-beda.
7.Memahami perbedaan asuhan budaya dan kesamaannya akan membuat perawat menghormati dan membantu pasien untuk sembuh, mencegah penyakit, dan menghindari kematian prematur.
8.Kemampuan perawat untuk berbicara bahasa klien akan mempermudah pemahaman apa yang dialami oleh klien.
9.Jika gaya hidup, nilai, dan ekspresi budaya terasa mustahil, perawat tetap harus mencoba untuk memahami klien tersebut.
10.Setiap budaya, asuhan, penyembuhan, dan praktik kesehatan dipengaruhi oleh pandangan dunia, konteks lingkungan, dan struktur sosial.
11.Budaya biasanya mempunyai dua tipe utama sistem asuhan keperawatan, yaitu generik dan profesional.
12.Budaya mempunyai cara sendiri untuk memelihara kesehatan, menghadapi kematian, mengalami hal yang tidak menyenangkan, dan krisis.
13.Praktik keperawatan di Barat dan non-Barat mempunyai perbedaan utama yang perlu dipahami ketika merencanakan dan menyediakan asuhan keperawatan.
10. Pengkajian Asuhan keperawatan Budaya
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi klien sesuai dengn latar belakang budaya klien (Goger and Davidhizar, 1995). Tujuan dari pengkajian budaya adalah untuk menghasilkan informasi signifikan dari klien dan pemahaman yang memungkinkan perawat untuk menerapakan asuhan keperawatan yang sesuai (Leininger and McFarland). Selain itu, pengkajian asuhan keperawatan budaya memiliki tujuan lain, diantaranya :
a. untuk menemukan budaya keperawatan klien, pola kesehatan serta makan yang berkaitan dengan pandangan klien cara hidup, nilai-nilai budaya, kepercayaan dan faktor struktur sosial.
b. untuk mendapatakan informasi budaya keperawatan secara menyeluruh sebagai dasar kuat untuk penentuan keputusan dan tindakan asuhan keperawatan.
c. untuk menemukan pola-pola keperawatan budaya tertentu yang dapat digunakan untuk membuat keputusan keperawatan yang sesuai dengan nilai-nilai klien, cara hidup, dan untuk menemukan pengetahuan apa yang dapat membantu klien.
d. untuk mengidentifikasi daerah yang berpotensi mengalami konflik budaya, bentrokan dan daerah yang terasingkan aibat perbedaan nilai emik dan etik antara klien dan tenaga kesehatan rofesional.
e. untuk mengidentifikasi perbandingan informasi keperawatan budaya antar klien mengenai perbedaan atau persamaan budaya, yang dapat dibagi dan digunakan dalam praktek kinis, pengajaran dan penelitian.



















BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan tentang. Dengan kata lain jenis penelitian kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif  berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat suatu individu, keadaan, gejala, dari kelompok tertentu yang diamati. (Moleong, 2006:6).
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
3.2 Subjek Penelitian
3.3 Lokasi Penelitian

3.4  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, Observasi adalah suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian-kejadian yang langsung. Penggunanan metode ini sangat dipengaruhi oleh interesnya sang peneliti. Observasi ini lebih banyak digunakan pada statistika survei,misalnya akan meneliti perilaku orang-orang suku tertentu. Observasi ke lokasi yang bersangkutan akan dapat diputuskan alat ukur mana yang tepat untuk digunakan . Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi. Kadang observasi dilakukan untuk meneliti kembali validitas dari data yang telah diperoleh sebelumnya dari individu-individu.
Selain menggunakan observasi peniliti menggunakan metode wawancara yaitu sebuah proses komunikasi berpasangan dengan suatu tujuan yang serius dan telah ditetapkan sebelumnya yang dirancang untuk bertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab (Charles Stewart dan W.B. Cash). Dengan menggunakan Wawancara memberikan kesempatan kepada pewawancara untuk memotivasi orang yang diwawancarai untuk menjawab dengan bebas dan terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, memungkinkan pewawancara untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan situasi yang berkembang, pewawancara dapat menilai kebenaran jawaban yang diberikan dari gerak-gerik dan raut wajah orang yang diwawancarai, pewawancara dapat menanyakan kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu terjadi.
3.5 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yaitu :
1)      instrument yang utama adalah peneliti
2)      instrument pengkajian budaya, yaitu :
a. Mempertahankan Budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b. Negosiasi Budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.
c. Restrukturisasi Budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan  keyakinan yang dianut.
3)      pedoman observasi digunakan untuk memperoleh data yang lebih akurat, sehingga dapat membuktikan benar tidaknya apa yang dilihat, didengar, diamati, diukur, melalui penelitian.
4)      pedoman wawancara digunakan untuk menciptakan hubungan yang baik diantara dua pihak yang terlibat (subjek wawancara dan pewawancara), meredakan ketegangan yang terdapat dalam subyek wawancara.Menyediakan informasi yang dibutuhkan, mendorong ke arah pemahaman diri pada pihak subyek wawancara, mendorong ke arah penyusunan kegiatan yang konstruktif pada subyek wawancara.
5)      alat  rekam, digunakan untuk merekam setiap pembicaraan antara peneliti dengan narasumber, selain untuk berguna untuk pendokumentasian hasil wawancara.


3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan secara rinci mengenai hal-hal yang ada pada rumusan masalah yang kemudian dijabarkan pada pembahasan. Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan fokus.
Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan interviewer menjelajah dengan tanggapan narasumber untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada. Kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari interviewer.











DAFTAR PUSTAKA

Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts, Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies
Andrew . M & Boyle. J.S, (1995), Transcultural Concepts in Nursing Care, 2nd Ed, Philadelphia, JB Lippincot Company
Giger. J.J & Davidhizar. R.E, (1995), Transcultural Nursing : Assessment and Intervention, 2nd Ed, Missouri , Mosby Year Book Inc
Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care of Adult ; Section One Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care
http://wayanpuja.wordpress.com/2011/05/15/20/
Potter, P.A. dan Perry, A.G. 2009. Fundamental of Nursing: Concepts, Process, and Practice. 7th Edition. St. Louis: Elsevier
Afifah, Efy. Ringkasan Materi Unit 2 Keragaman Budaya dan Perspektif  Transkultural dalam Keperawatan.
Kozier, B., Erb, G., Berman, A.J., & Snyder. (2004). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practices, 7th Ed. New Jersey: Pearson Education, Inc.
M. Foster, George & Gallatin Anderson, Barbara (2006). Antropologi Kesehatan : Foster/Anderson.
Novieastari, Enie. “Perkembangan Transkultural dalam Keperawatan”. http://staff.ui. ac.id/internal/132014715/material/PerkembanganTranskulturaldalamKeperawatan.pdf. Aplication pdf

Lampiran 1
Instrumen Pengkajian Warisan Budaya melalui wawancara
1. Dimana ibu Anda lahir ? ______
2. Dimana ayah Anda lahir ? ______
3. Dimana kakek – nenek Anda lahir ? ______
a. Ibu dari Ibu Anda ? ______
b. Ayah dari Ibu Anda ? ______
c. Ibu dari Ayah Anda ? ______
d. Ayah dari Ayah Anda ? ______
4. Berapa saudara laki – laki ______ dan perempuan ______
5. Dimana Anda dibesarkan ? Desa _____ Kota ______ Pinggir Kota ______
6. Dimana orang tua Anda dibesarkan ? Ayah ______ Ibu ______
7. Berapa usia Anda ketika datang ke Indonesia ? ______
8. Berapa usia orang tua Anda ketika datang ke Indonesia ? ______
9. Ketika Anda dibesarkan, siapa yang tinggal dengan Anda ? ______ Keluarga Inti ______ atau Keluarga Besar ______
10. Apakah Anda mempertahankan kontak dengan :
a. Bibi, Paman, Sepupu ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
b. Saudara Laki – Laki dan Perempuan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
            c. Orang Tua ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
d. Anak Anda Sendiri ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
11. Apakah kebanyakan dari bibi, paman, sepupu Anda tinggal dekat rumah Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
12. Kira – kira seberapa sering Anda mengunjungi anggota keluarga Anda yang tinggal di luar rumah Anda ? ( 1 ) Setiap Hari _____( 2 ) Setiap Minggu ______ ( 3 ) Setiap Bulan ______ ( 4 ) Hanya Liburan Khusus ______ ( 5 ) Tidak Pernah ______
13. Apakah nama asli keluarga Anda di ganti ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
14. Apakah kepercayaan Anda ? ( 1 ) Katolik ______ ( 2 ) Islam ______ ( 3 ) Protestan ______ Denominasi ______ ( 4 ) Lain – Lain ______ ( 5 ) Tidak Ada ______
15. Apakah pasangan Anda mempunyai kepercayaan yang sama dengan Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
16. Apakah pasangan Anda mempunyai latar belakang etnik sama dengan Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
17. Anda sekolah dimana ? ( 1 ) Pemerintah ______ ( 2 ) Swasta _____( 3 ) Seminari / Pesantren ______
18. Sebagai seorang dewasa, apakah Anda tinggal di daerah dimana tetangga mempunyai kepercayaan dan latar belakang yang sama dengan Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
19. Apakah Anda memiliki institusi keagamaan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
20. Dapatkah Anda mengambarkan diri Anda sendiri sebagai anggota yang aktif? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
21. Seberapa sering Anda menghadiri institusi keagamaan Anda ? ( 1 ) Lebih dari satu minggu ______ ( 2 ) Setiap minggu ______. ( 3 ) Setiap bulan ______ ( 4 ) Sekali setahun atau kurang ______ ( 5 ) Tidak pernah ______
22. Apakah Anda mempraktikkan keagamaan Anda di rumah? ( 1 ) Ya ______ (2) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______ ( 3 ) Berdoa ______ ( 4 ) Membaca Kitab Suci ______ (5 ) Diet ______ ( 6 ) Merayakan hari besar keagamaan ______

23. Apakah Anda menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
24. Apakah Anda berpartisipasi dalam aktivitas etnik ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______ ( 3 ) Bernyanyi _____ ( 4 ) Perayaan Hari Besar _____ ( 5 ) Berdansa ______( 6 ) Festival ______ ( 7 ) Adat Istiadat ______ ( 8 ) Lain – Lain ______
25. Apakah teman Anda dari latar belakang kepercayaan yang sama dengan Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
26. Apakah teman Anda dari latar belakang etnik yang sama dengan Anda?
 ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
27. Apakah bahasa asli Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
28. Apakah Anda berbicara dengan bahasa tersebut ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
29. Apakah Anda membaca dalam bahasa asli Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak _____
Makin besar jumlah jawaban Ya, makin kuat klien memiliki keturunan tradisional











Lampiran 2
Instrumen Pengkajian Keperawatan melalui wawancara
1. Menurut Anda apa yang menyebabkan penyakit Anda ?
2. Seperti apa kami dapat memecahkan masalah Anda ?
Ø  Terfokus
1. Apakah Anda pernah mengalami masalah ini sebelumnya ?
2. Apakah ada seseorang yang Anda ingin agar kami bicara dengannya mengenai perawatan Anda?
Ø  Kontras
1. Bagaimana perbedaan masalah ini dengan masalah sebelumnya ?
2. Apa perbedaan antara apa yang perawat kerjakan dengan apa yang Anda pikirkan, bagaimana perawat memperlakukan untuk Anda ?
Ø  Riwayat Etnik
1. Berapa lama Anda / orang tua Anda tinggal di negara ini ?
2. Apa latar belakang etnik atau asal leluhur Anda ?
3. Seberapa kuat budaya mempengaruhi Anda ?
4. Ceritakan alasan Anda meninggalkan tanah air Anda ?
Ø  Organisasi Sosial
1. Siapa yang tinggal dengan Anda ?
2. Siapa yang Anda anggap sebagai anggota keluarga Anda ?
3. Dimana anggota keluarga Anda yang lain tinggal ?
4. Siapa yang membuat keputusan untuk Anda atau keluarga Anda ?
5. Siapa yang Anda cari saat memerlukan bantuan untuk keluarga Anda ?
6. Apa harapan Anda terhadap anggota keluarga yang pria, wanita, tua, atau muda ?
Ø  Status Sosioekonomi
1. Apa yang Anda lakukan untuk kehidupan ?
2. Bagaimana perbedaan kehidupan Anda di sini dibandingkan tempat asal?
Ø  Ekologi Biokultural dan Risiko Kesehatan
1. Apa penyebab masalah Anda ?
2. Bagaimana masalah mempengaruhi Anda atau bagaimana masalah itu mempengaruhi kehidupan Anda dan keluarga Anda ?
3. Bagaimana Anda mengatasi masalah tersebut di rumah ?
4. Apa masalah lain yang Anda hadapi ?
Ø  Bahasa dan Komunikasi
1. Apa bahasa yang Anda gunakan di rumah ?
2. Apa bahasa yang Anda gunakan untuk membaca dan menulis ?
3. Bagaimana perawat harus berbicara atau memanggil Anda ?
4. Apa jenis komunikasi yang menggangu Anda ?
Ø  Kepercayaan dan Praktik Pelayanan
1. Apa yang Anda lakukan untuk menjaga kesehatan Anda ?
2. Apa yang Anda lakukan untk menunjukkan kepedulian Anda ?
3. Bagaimana Anda merawat anggota keluarga yang sakit?
4. Pemberi layanan mana yang Anda cari saat Anda sedang sakit ?

5. Bagaimana perbedaan yang perawat lakukan dengan yang dilakukan keluarga Anda saat Anda sedang sakit ?

0 komentar:

Posting Komentar