BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Etnik adalah seperangkat kondisi
spesifik yang dimiliki oleh kelompok tertentu (kelompok etnik). Sekelompok
etnik adalah sekumpulan individu yang mempunyai budaya dan sosial yang unik
serta menurunkannya ke generasi berikutnya (Handerson, 1981). Etik berbeda
dengan ras (race). Ras merupakan sistem pengklasifikasian manusia berdasarkan
karakteristik fisik pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh dan
bentuk kepala. Ada tiga jenis ras yang umumnya dikenal, yaitu Kaukasoid,
Negroid, Mongoloid. Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau
diajarkan manusia kepada generasi berikutnya (Taylor, 1989). Budaya adalah
sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan,keyakinan, seni, moral,
hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai
anggota kemunitas setempat.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keselurahan hasil budi dan karyanya dan sebuah rencana untuk melakukan kegiatan tertentu (Leininger, 1991).
Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984), karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut : (1) Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis, (2) budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan, (3) budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keselurahan hasil budi dan karyanya dan sebuah rencana untuk melakukan kegiatan tertentu (Leininger, 1991).
Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984), karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut : (1) Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis, (2) budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan, (3) budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.
Croos, T., Bazron, B., Dennis, K., and Isaacs,
M ( 1989) memberikan acuan
lima (5) element budaya yang perlu diketahui
dan mampu diimplemetasikan oleh seorang perawat dalam intervensi keperawatan
yakni :
1. menilai keanekaragaman budaya
2. mempunyai kapasitas untuk meng-assessment
budaya
3. menjadari bahwa budaya bersifat dinamis dan
inherent dalam ketika terjadi interaksi budaya
4. mempunyai pengetahuan budaya yang sudah
dilembagakan
5. mempunyai adaptasi yang terus menerus
dikembangkan dalam upaya merefleksikan dan memamahami keanekaragaman
budaya.
Kelima element di atas hendaknya akan selalu
diwujudkan pada setiap langkah,perilaku layanan kepada pasien atau klien baik
di rumah sakit maupun di masyarakat. Dengan kata lain seorang perawat kesehatan
harus mampu mewujudkan peran atau fungsi seorang pe rawat mulai dari tingkat
pelaksana, pengelola, pendidik sampai pada peneliti. Karena setiap perwujudan
peran seorang perawat akan selalu berinteraksi dengan manusia atau klien.
Meyer
CR, ( 1996 ) bahkan memberikan tuntutan empat hal yang harus di punyai
seorang perawat sebagai provider dalam mengimplementasikan kompetensi
asuhan keperawatan yakni,
1). mempunyai kapabelitas
menghadapi tantangan langsung perbedaan klinis dari klien yang berbeda suku dan
ras,
2). mempunyai kemampuan
komunikasi dalam mengha dapi klien yang beraneka ragam latar belakang,
3). mempunyai kapabelitas
dalam bidang ethics,
4). mempunyai kapebelitas
menumbuhkan kepercayaan.
Belajar
terus menerus merupakan salam satu hal yang harus menjadi milik seorang
per-wat kesehatan. Transcultural Nursing Knowledge akan menjadi milik
seorang perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan bila dirinya terus
dikembangkan dan mempunyai motivasi tinggi untuk terus melakukan evaluasi
pada setiap intervensi pada klien / pasien. Hal yang harus diingat bahwa trasncultural
akan selalu terjadi pada setiap intervention nursing dan sifatnya
dinamis.
Allah berfirman dalam Al-quran
tentang perlu adanya pengenalan kebudayaan lain. “Hai manusia, sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Sehingga dengan memahami serta
melaksanakan konsep-konsep yang telah dikemukakan , perawat
mampu memberikan pelayanan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia
dalam aspek pemenuhan kebutuhan bio psiko sosio maupun spiritual. Pengkajian
kesehatan atau keperawatan yang komprehensif harus mempertimbangkan klien dari
aspek budaya, keluarga, dan masyarakat. Seperti yang sudah disebutkan dalam
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tap. MPR RI IV Tahun 1999, bahwa kita
hidup di suatu pranata sosial yang majemuk. Sebagai mahluk-mahluk budaya telah
sejak lama mengembangkan pranata-pranata sosial, teori-teori etiologi dan
teknik-teknik pengobatan yang memungkinkan klien menanggulangi dislokasi sosial
dan dislokasi lainnya, yang terjadi karena penyakit dan mengakibatkan
ketidakmampuan. Sebagai seorang tenaga medis wajib mengajarkan budaya kepada
setiap kliennya melalui tingkah laku dan bentuk-bentuk kepercayaan yang
berlandaskan budaya, yang timbul sebagai respons terhadap ancaman-ancaman yang
disebabkan oleh penyakit. Umtuk menunjang kinerja perawat yang berbudaya
diperlukan sifat adaptif dari suatu
sistem medis, dan itu nampak jelas dari definisi Dunn yang baru ialah pola-pola
dari pranata-pranata sosial dan tradisi-tradisi budaya yang menyangkut perilaku
yang sengaja untuk meningkatkan kesehatan, meskipun hasil dari tingkah laku
khusus tersebut belum tentu kesehatan yang baik (Dunn 1976 : 135).
Pranata-
pranata utama dalam setiap kebudayaan berhubungan satu dengan lainnya serta
memenuhi fungsi khusus dalam hubungannya dengan satu sama lain. Setiap pranata amat penting bagi berfungsinya secara
normal kebudayaan dimana pranata itu berada, dan sebaliknya memerlukan yang
lainnya untuk kelanjutan eksistensinya. Pranata-pranata kesehatan tidak berbeda
halnya. Sebagai contoh kepercayaan yang terhadap penyakit pada banyak
masyarakat sangat terjalin erat dengan magis dan religi sehingga tidak mungkin
untuk memisahkan keduanya.
Untuk
mengatakan bahwa sistem medis yang di dalamnya terdapat salah satu unsur yaitu
asuhan keperawatan adalah bagian yang integral dari kebudayaan, berarti
memandangnya pada tingkatan dasar yang nyata. Namun sistem medis adalah bagian-bagian
dari kebudayaan pada tingkatan yang lebih abstrak, yang dalam isi maupun
bentuknya mencerminkan pola-pola dan nilai-nilai yang kurang nampak. Setiap
kebudayaan telah mengembangkan suatu sistem kesehatan yang mendukung hubungan
timbal-balik yang tidak luntur dalam pandangan hidup yang berlaku. Tingkah laku
medis dari individu-individu dan kelompok-kelompok tidak akan dimengerti jika
terpisah dari sejarah kebudayaan umum (Pellegrino 1963:10). Dengan memahami aspek budaya klien, akan
membantu kita memahami aspek klien secara individual dan mengidentifikasi
pendekatan yang tepat. Memahami aspek budaya akan membantu kita mendeteksi
kecenderungan klien terhadap masalah kesehatan yang ia alami. Pemahaman
terhadap aspek budaya dalam keperawatan tidak saja menjadi kepedulian kita
sebagai seoarang tenaga medis, namun sudah menjadi konteks global. Alasan lain
bahwa seorang perawat harus memahami budaya adalah adanya keterkaitan antara
budaya dengan variasi biologis. Para ahli antropologi fisik telah melakukan
berbagai penelitian untuk menggali pengaruh variasi biologis pada status sehat
dan sakit kelompok etnik tertentu. Pemahaman budaya ini juga membantu perawat
dalam mengidentifikasi kebutuhan tertentu yang dipengaruhi oleh budaya, seperti
kebutuhan untuk memperolah kesejajaran pelayanan kedokteran dan keperawatan,
penghargaan nilai budaya termasuk agama, makanan, kebutuhan pribadi, rutinitas
harian, komunikasi, dan kebutuhan terhadap keselamatan secara budaya, misalnya
di pandang sebagai mitra, negosiasi, dan lingkungan yang kondusif untuk mendukung adanya rasa selamat
(Narayanasamy, 2002).
Kompetensi
budaya dapat diartikan sebagai suatu integrasi yang kompleks antara
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku guna meningkatkan komunikasi
trans-budaya (cross-cultural) dan interaksi yang tepat dengan orang lain
(Andrews,1997). Perawat harus bisa mengintrospeksi tentang latar belakang dirinya. Perawat juga
harus memiliki pengetahuan yang merupakan perbandingan antar kelompok.
Keterampilan budaya termasuk pengkajian social maupun budaya yang mempengaruhi
pengobatan dan perawatan klien. Pertemuan sebagai mediapembelajaran. Keinginan
sebagai motivasi dan komitmen pelayanan. Kebutuhan perawat untuk memahami
pengetahuan budaya dan mempunyai kompetensi budaya menjadi lebih penting pada
abad ke-21 ini. Beberapa pakar telah
mendefinisikan pengertiam budaya dan kaitannya dengan keperawatan sehingga
seorang perawat dapat mengetahui pengertian keperawatan transkultural yang dijelaskan
oleh leininger. Keperawatan transkultural adalah suatu disiplin yang terfokus
pada pengertian keperawatan, nilai, dan praktik dalam konteks budaya tertentu
untuk menemukan dan menjelaskan cara keperawatan yang berbudaya dapat
mempengaruhi kesehatan dan kesehjateraan seseorang, atau membantu seseorang
dalam menghadapi kematian dan menerima kecacatan (Leininger, 1997).
Dimensi budaya dan
struktur sosial tersebut menurut Leininger di pengaruhi oleh tujuh faktor,
yaitu teknologi, agama dan falsafah hidup, faktor sosial dan kekerabatan.
Peran perawatan pada transcultural nursing teory ini adalah
menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan
sistem perawatan prosfesional melalui asuhan keperawatan. Eksistensi peran
perawat tersebut digambarkan oleh leininger. Oleh karena itu perawat harus mampu membuat
keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada
masyarakat. Jika di sesuaikan dengan proses keperawatan, hal tersebut merupakan
tahap perencanaan tindakan keperawatan.
Menurut
Leininger (1995), keperawatan transkultural penting karena beberapa faktor,
yaitu :
1. Terjadi
peningkatan imigrasi
2. Terjadi
peningkatan idealitas multikultural dalam pemahaman dan penghargaan pada
perawat dan tenaga kesehatan lain
3. Peningkatan
teknologi kesehatan
4. Konflik
budaya yang terjadi berdampak pada interaksi budaya lain
5. Terjadi
peningkatan jumlah orang yang bekerja atau berwisata kenegara lain
6. Terjadi
peningkatan konflik budaya yang dihasilkan oleh praktik kesehatan
7. Adanya
emansipasi wanita dan gender
Globalisasi menyebabkan tuntutan asuhan keperawatan
semakin besar. Perpindahan penduduk dan pergeseran tuntutan keperawatan dapat
terjadi. Perawat yang tidak mampu menyesuaikan asuhan keperawatan terhadap
kondisi yang ada akan menyebabkan penurunan kualitas pada pelayanan keperawatan.
Oleh karena itu, hal ini menyebabkan
dibutuhkannnya peningkatan terhadap profesi keperawatan. Asuhan
keperawatan transkultural adalah salah satu bentuk asuhan keperawatan
profesional yang secara kultural sensitif, sesuai, dan berkompeten, merupakan
penyelenggaraan asuhan keperawatan lintas budaya dalam konteks pasien beserta
lingkungan di mana masalah kesehatan pasien tersebut timbul (Kozier, Berman
& Snyder: 2004).Peningkatan
pengetahuan, koordinasi antar profesi atau tenaga kerja kesehatan lain sangat
diperlukan. Perawat harus lebih aktif dalam menghadapi globalisasi terutama
dalam pelayanan kesehatan.Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian
kegiatan pada pratik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan
latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu
sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan
adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).
Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang
sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu :
- Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan
kultur,
- Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi
sosiokultural dan
- Ketidak patuhan dalam pengobatan
berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini
Tindakan
keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap memperhatikan tiga perinsip
asuhan keperawatan, yaitu :
1.
culture care preservation/maintenance,
yaitu : prinsip membantu,memfasilitasi,atau
memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkatan kesehatan
dan gaya hidup yang diinginkan. Seperti halnya dibawah ini:
1) Identifikasi
perbedaan konsep antara klien dan perawat
2) Bersikap tenang
dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan
kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
2.
Culture care accommodation/negatiation,
Yaitu
: prinsip membantu,memfasilitasi, atau memperhatikan fenomena
budaya,yang merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi,atau bernegosiasi atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atau klien. Seperti
halnya dibawah ini :
1) Gunakan bahasa
yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan
keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan,
lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis,
pandangan klien dan standar etik.
3.
culture care repatterning/restructuring,
yaitu : prinsip merekonstruksi atau mengubah desain untuk
membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah lebih baik.
Seperti halnya dibawah ini :
1) Beri kesempatan
pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya.
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien
melihat dirinya dari budaya kelompok
3) Gunakan pihak
ketiga bila perlu.
4) Terjemahkan
terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh
klien dan keluarga.
5) Berikan
informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Peningkatan
permintaan untuk komunitas dan latar belakang budaya dalam konteks lingkungan.
Keperawatan transkultural adalah
suatu proses pemberian asuhan keperawatan
yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan,
meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya
Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks budaya sangat diperlukan untuk
menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien.
Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi
tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan atau bahkan
mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu
saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya
klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat erat dengan perencanaan dan
pelaksanaan proses asuhan keperawatan transkultural. Dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985). Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan,
meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya
Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks budaya sangat diperlukan untuk
menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien.
Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi
tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan atau bahkan
mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu
saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya
klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat erat dengan perencanaan dan
pelaksanaan proses asuhan keperawatan transkultural. Dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985). Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.
Teori keperawatan
transkultural ini menekankan pentingnya peran keperawatan dalam memahami budaya
klien.
Pemahaman yang benar pada diri perawat mengenai
budaya klien, baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat, dapat
mencegah terjadinya kesenjangan sosial
seperti culture shock maupun culture imposition.Cultural shock terjadi
saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara efektif
dengan kelompok budaya tertentu (klien) sedangkan culture
imposition adalah kecenderungan tenaga
kesehatan (perawat), baik secara diam-diam mauoun terang-terangan memaksakan
nilai-nilai budaya, keyakinan, dan kebiasaan/perilaku yang dimilikinya pda
individu, keluarga, atau kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa
budayanya lebih tinggi dari pada budaya kelompok lain. Leininger
beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan
nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut
diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural
shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu
beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat
menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa
mengalami disorientasiCultural shock akan dialami oleh klien pada
suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai
budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutaan
budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas
pelayanan keperawatan yang diberikan. Serta akan menimbulkan Konflik budaya yang dapat muncul dalam proses
keperawatan. Konflik budaya yang muncul dapat berupa etnosentrisme, pemikiran
bahwa cara hidup yang dianut lebih baik dibandingkan dengan budaya lain. Hal
ini menyebabkan adanya pilihan untuk mengabaikan budaya dan menggunakkan
nili-nili dan gaya hidup mereka sebagai petunjuk dalam berhubungan dengan klien
dan menafsirkan tingkah laku mereka.
Transkultural
Nursing adalah suatu
area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang
fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai
asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan
tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya
budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger,
2002). Konsep yang dikembangkan Leininger merupakan
konsep yang dikembangkan dari ilmu antropologi yang diintegrasikan dengan ilmu
keperawatan. Konsep tentang keperawatan transkultural berfokus pada kebudayaan/
generic (emic) yang memberikan pelayanan kepada seseorang dengan pendekatan
latar belakang kebudayaan. sehingga perawat mampu melakukan tindakan
keperawatan yang sesuai dengan perilaku social seseorang. Dasar-dasar konsep tersebut perlu
diketahui dan dipelajari oleh para perawat agar tidak adanya kebutaan budaya.
Sehingga karena hal tersebut perawat tidak mampu memberikan pelayanan
keperawatan yang berprinsip pada konsep caring.
Asumsi
mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan,
membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan
Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan
kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada
manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai
dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai segala
sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh.
Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan
polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya. Dengan demikian jelas bahwa prospek
social budaya dalam pelayanan kesehatan khususnya keperawatan adalah untuk
menerapkan pendekatan antropologi yang berorintasi pada keaneka ragaman budaya
baik antar budaya maupaun lintas budaya terhadap asuhan keperawatan yang tidak
membedakan perbedaan budaya dan melaksanakan sesuai dengan hati nurari dan
sesuai dengan standar penerapan tanpa membedakan suku, ras, budaya, dan
lain-lian
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa keterkaitan lintas
budaya pasien dengan asuhan keperawatan yang di berikan perawat?
2.
Mengapa perawat harus
memahami budaya pasien dalam memberikan asuhan keperawatan?
3.
Bagaimana tindakan
perawat menghadapi budaya pasien yang beraneka ragam?
4.
Bagaimana perawat
beradaptasi dengan budaya pasien yang beraneka ragam?
1.3
Tujuan Penulisan
1.3.1
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui Pentingya
memahami lintas budaya dalam memberikan asuhan keperawatan
1.3.2
Tujuan
Khusus
1.
Untuk mengkaji keterkaitan budaya
klien dengan asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat.
2.
Untuk mengkaji
tindakan perawat menghadapi budaya klien yang beraneka ragam.
3.
Untuk mengkaji cara
perawat beradaptasi dengan budaya klien yang beraneka ragam
4.
Untuk mengkaji pemahaman perawat tentang budaya pasien
dalam memberikan asuhan keperawatan
1.4
Manfaat penulisan
1.4. 1 Manfaat teoritis
Untuk memberikan
kontribusi dan memperluas wawasan dalam mengkaji pentingya memahami lintas
budaya dalam memberikan asuhan keperawatan.
1.4.2
Manfaat praktis
Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik
dari hasil penelitian ini, antara lain:
Ø Bagi pembaca :
1.
Memberikan
informasi tentang Pentingya memahami lintas budaya
dalam memberikan asuhan keperawatan
Ø Bagi penulis :
1.
Melatih
dalam menyusun karya ilmiah.
2.
Memotivasi
untuk menyusun karya ilmiah selanjutnya yang lebih baik.
3. penulisan ini
merupakan suatu wadah untuk mengaktualisasikan kreativitas dan sebagai batu
loncatan untuk meningkatkan kemampuan penulis didalam rencana penulisan karya
ilmiah.
4. Bagi penulis yang
akan datang, rencana penulisan karya
ilmiah ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan
bagi penulis selanjutnya.
Ø Bagi tenaga pengajar :
1.
Dapat memberikan apa
yang terbaik bagi mahasiswa didiknya
ketika melaksanakan proses KBM dalam kelas
1.5
Definisi Istilah atau
Definisi Operasioanal
Ø Bila ditinjau dari makna kata ,
transkultural berasal dari kata trans dan culture, Trans berarti aluar
perpindahan , jalan lintas atau penghubung.Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia; trans berarti melintang , melintas , menembus , melalui.
Cultur berarti budaya . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :
- kebudayaan , cara pemeliharaan , pembudidayaan.
- Kepercayaan , nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya , sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.
Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.
Dan kebudayaan berarti :
- Hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan , kesenian dan adat istiadat.
- Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunya
Jadi , transkultural dapat diartikan sebagai :
- Lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain
- Pertemuan kedua nilai – nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial
- Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai– nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda , ras , yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien ). Menurut Leininger ( 1991 ).
Cultur berarti budaya . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :
- kebudayaan , cara pemeliharaan , pembudidayaan.
- Kepercayaan , nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya , sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.
Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.
Dan kebudayaan berarti :
- Hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan , kesenian dan adat istiadat.
- Keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman tingkah lakunya
Jadi , transkultural dapat diartikan sebagai :
- Lintas budaya yang mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain
- Pertemuan kedua nilai – nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi sosial
- Transcultural Nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai– nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda , ras , yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada klien / pasien ). Menurut Leininger ( 1991 ).
Ø Keperawatan lintas budaya merupakan
bidang studi dan praktik formal yang berfokus pada analisis komparatif budaya
dan sub budaya di dunia dalam kaitanya dengan keperawatan kultural, kepercayaan
tentang kesehatan dan penyakit, nilai-nilai dan praktik yang bertujuan untuk
menggunakan pengetahuan ini dalam memberikan perawatan sesuai budaya tertentu
atau sesuai budaya universal kepada semua orang (Leininger,1978). Keperawatan
lintas budaya memberikan kerangka budaya kerja untuk memenuhi kebutuhan
keperawatan kesehatan dari kelompok dengan latar budaya beraneka ragam. Dalam
melakukan pencapaian keperawatan ada 6 fenomena kultural yang dipertimbangkan,
yaitu :
1. Komunikasi : verbal, non verbal
bahasa utama
2. Ruang pribadi : tindakan lebih
menonjol dari kata-kata
3. Organisasi sosial : Prilaku
didapat, ciri khas budaya, nilai-nilai berorientasi internal, kepercayaan
keagamaan, pembuatan keputusan dalam keluarga.
4. Waktu : cara mengkaji waktu,
konsep waktu
5. Lingkungan : mengevaluasi sistem
kesehatan, lokus kontrol
6. Variasi biologis : struktur
tubuh, genetik, atribut fisik, karakteristik psikologis Mendorong potensi
perawat untuk memberikan secara cermat arti diversivitas bukan realitas masa
depan tetapi tantangan masa kini dan kesempatan untuk berkembang (Hagivary,1192).
Ø Keperawatan
transkultural merupakan suatu arah utama dalam keperawatan yang berfokus pada
study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub budaya yang berbeda di
dunia yang menghargai perilaku caring, layanan
keperawatan, niai-nilai, keyakinan tentang sehat sakit, serta pola-pola tingkah
laku yang bertujuan mengembangkan body of knowladge yang ilmiah dan
humanistik guna memberi tempat praktik keperawatan pada budaya tertentu dan
budaya universal (Marriner-Tomey, 1994). Teori keperawatan transkultural ini
menekankan pentingnya peran keperawatan dalam memahami budaya klien.
Ø Teory keperawatan
transkultural matahari terbit, sehinnga di sebut juga sebagai sunrise modelmatahari
terbit (sunrise
model ) ini melambangkan esensi keperawatan dalam transkultural yang
menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu,
keluarga, kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus
mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (worldview) tentang dimensi
dan budaya serta struktur sosial yang, bersyarat dalam lingkungan yang sempit.
Ø Transcultural Nursing Theory adalah
teori yang berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam
konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep keperawatan yang didasari
oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam
masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan
keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada
klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya
cultural shock.
Ø Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah
keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).
Ø Leininger (1985) mengartikan
paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995).
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995).
Ø Keperawatan transkultural
adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada
individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai
dengan latar belakang budaya.
Ø Kazier Barabara ( 1983 ) dalam
bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan
bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi
dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic
, philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial
. Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang
menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho – social
– spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada
tindakan yang komperhensif sekaligus holistic.
Ø Menurut Dr. Madelini Leininger ,
studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah berfungsi untuk
meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya
. Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ) ,
baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan
. Lininger berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang pola praktik
transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya
pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.
Ø Teori Madeleine
Leininger menyatakan bahwa kesehatan dan care dipengaruhi oleh
elemen- elemen beerikut yaitu: Struktur sosial
seperti teknologi, kepercayaan dan factor filosofi , sistem sosial, nilai-nilai
cultural , politik dan faktor-faktor legal, faktor-faktor ekonomi, dan faktor-faktor
pendidikan . Faktor sosial ini berhubungan dengan konteks lingkungan, bahasa
dan sejarah etnis, masing-masing sistem ini merupakan bagian struktur
sosial.Pada setiap kelompok masyarakat ; pelayanan kesehatan , pola-pola yang
ada dalam masyarakat daan praktek-praktek yang merupakan bagian integral dari
aspek-aspek struktur sosial (Leineinger dan MC Farland 2002).
Ø Keperawatan transkultural adalah
suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisis dan studi perbandingan
tentang perbedaan budaya (Leininger ,1978 ).keperawatan transkultural adalah
ilmu dan kiat yang humanis ,yang difokuskan pada perilaku individu atau
kelompok ,serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat
atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya
( Leininger ,1984 ).pelayanan keperawatan traskultural diberikan kepada klien
sesuai dengan latar belakang budayanya.
Ø Paradigma keperawatan transkultural
adalah cara pandang ,persepsi,keyakinan, nilai-nilai , dan konsep-konsep dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya
terhadap konsep sentral, yaitu manusia ,keperawatan , kesehatan , dan
lingkungan ( Leininger ,1984 ,Andrew & Boyle ,1995 & Barnim , 1998 ).
Ø Keperawatan transkultural adalah Mengetahui
nilai-nilai pelayanan budaya klien, arti, kepercayaan, dan praktiknya sebagai
hubungan antara perawat dan pelayanan kesehatan mewajibkan perawat untuk
menerima aturan pelajar atau teman sekerja dengan klien dan keluarganya dalam
bentuk karakteristik arti dan keuntungan dalam pelayanan (Leininger, 2002).
Ø Keperawatan
transkultural adalah keperawatan yang berfokus pada studi komparatif dan
analisa pada perbedaan budaya. Keperawatan ini berhubungan dengan kepedulian
akan perilaku, keperawatan, dan nilai sehat-sakit, serta kepercayaan mereka.
Tujuannya adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan untuk
memberikan keperawatan dalam kebudayaan khusus dan kebudayaan universal.
Ø Asuhan
keperawatan transkultural adalah salah satu bentuk asuhan keperawatan
profesional yang secara kultural sensitif, sesuai, dan berkompeten, merupakan
penyelenggaraan asuhan keperawatan lintas budaya dalam konteks pasien beserta
lingkungan di mana masalah kesehatan pasien tersebut timbul (Kozier, Berman
& Snyder: 2004).
Ø Menurut
Giger dan Davidhizar
-
Definisi keperawatan
transklutural
Merupakan kompetensi yang fokus pada
klien.
-
Perbedaan budaya
keperawatan
Variasi dalam pendekatan keperawatan
dibutuhkan untuk menyesuaikan budaya.
-
Budaya individu yang
unik
Masing-masing individu mempunyai budaya
yang unik yang dibentuk dari pengalaman, budaya, kepercayaan, dan norma.
-
Budaya lingkungan
-
Budaya dalam lingkungan
sangat berpengaruh dalam proses keperawatan.
Ø Dalam model
sunrisenya Leineinger menampilkan visualisasi hubungan antara berbagai
konsep yang signifikan. Ide pelayanan dan perawatan (yang dilihat Leineinger
sebagai bentuk tindakan dari asuhan ) merupakan inti dari idenya tentang
keperawatan. Memberikan asuhan merupakan jantung dari keperawatan. Tindakan
membantu didefinisikan sebagai prilaku yang mendukung. Menurut Leininger
bantuan semacam itu baru dapat benar-benar efektif jika latarbelakang budaya
pasien juga dipertimbangkan, dan bahwa perencanaan dan pemberian asuhan selalu
dikaitkan dengan budaya.
Ø Model matahariterbit (sunrise
model) ini melambangkan esensi keperawatan dalam transcultural yang
menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu,
keluarga, kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus
mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia (world view) tentang
dimensi dan budaya serta struktur social yang berkembang di berbagai belahan
dunia (secara global) maupun masyarakat dalam lingkup yang sempit.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu Yang
Relevan
Untuk menunjang
penelitian ini telah dilakukan beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan
dengan Pentingya memahami lintas budaya dalam memberikan asuhan keperawatan.
v Pertama
:
1. Judul
: ASPEK ETNIK DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN
2. Identitas peneliti :
1)
Nur Fatayati (C) 100 2010 726
2)
Rini Yolanda Eka P. (C) 100
2010 728
3)
Tias Kusuma R. (C) 100 2010 736
4)
Bachtiar Rohman F. (A)
10.02.01.0603
5)
Bayu Surya A. (A) 10.02.01.0604
6)
Aris Yunus P. (B) 10.02.01.0651
7)
Aris Suwanto (B) 10.02.01.0650
3.
Tahun Penelitian : 2010-2011
4.
Bentuk naskah : Makalah penelitian
5.
Masalah yang diangkat :
Mr.xx umur 17 tahun, setatus lajang,
agama islam, suku jawa, pekerjaan pelajar,sekolah di SMA negeri 2 Bojonegoro,
bahasa yang digunakan sehari-hari adalah b.jawa, sering makan makanan pedas,
orang tua lahir di Bojonegoro, Mr.xx dibesarkan di Bojonegoro, dia tinggal
bersama kedua orang tuanya, anak pertama dari dua bersaudara.Saat ini Mr.xx
dirawat di ruang B bagian penyakit ringan dalam rumah sakit V , Sudah 2 hari
mr.xx dirawat dengan keluhan nyeri diperutnya, Mr.xx menggunakan ramuan
tradisional dalam penangannya sebelum dibawa ke rumah sakit, yaitu meminum air
yang sudah di bacakan mantra yang di campurkan dengan bunga oleh orang yang
dianggap pintar dalam bidang tersebut yang sering lita sebut dukun. Kondisi
Mr.xx sudah menukjukkan perubahan, seperti nyeri berkurang, mual hilang , nafsu
makan bertambah, mr.xx dianjurkan agar tidak sering makan makanan pedas dulu.
6.
Teori yang digunakan : menerapkan
konsep etnik dan budaya yang meliputi control lingkungan, variasi biologi,
organisasi sosial .
1.
Pengkajian
Bila mengacu pada konsep etnik dan budaya
hal-hal yang perlu di kaji adalah control lingkungan, variasi biologi, dan
organisasi sosial, dan data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
a.
Kontrol lingkungan : umur 17
tahun, agama islam, suku jawa, lahir di bojonegoro, kedua orang tua beragama
islam, bahasa keseharian b.jawa, sebelumnya menggunakan penyembuhan tradisional
yitu dengan minum air yang di campur bunga dan dibacakan mantra.
b.
Variasi biologi : struktur dan
tubuh kecil umumnya orang Indonesia, warna kulit sawo matang, suka makanan yang
pedas, berasal dari etnik dan budaya jawa.
c.
Organisasi social : hidup
dilingkungan keluarga kecil, berorganisasi disekolahnya, tidak ikut organisasi
social di masyarakat.
7.
Metode penelitian : Wawancara,
wawancara adalah suatu cara yang digunakan untuk tujuan suatu tugas tertentu,
mencoba mendapatkan keterangan dan pendirian secara lisan dari seorang
responden, dengan bercakap-cakap berhadapan muka (Koentjaraningrat)
8.
Hasil penelitian : Berdasarkan
hasil pengkajian dan analisis data beberapa diagnose keperawatan yang dapat
ditegakkan pada Mr.xx adalah :
a.
Nyeri akut
b.
Mual
c.
Muntah muntah
d.
Intoleransi aktifitas
e.
Self care deficit
f.
Intoleransi pengobatan
magisoreligius
Ø Evaluasi :
a.
Nyeri hilang
b.
Mual berkurang
c.
Tidak lagi muntah
d.
Mampu melakukan perawatan diri
e.
Mr.xx dapat melakukan aktifitas
f.
Berubahnya keyakinan tentang
kesehatan yang didasari kultur
v Kedua :
1.
Judul : ASUHAN
KEPERAWATAN BUDAYA TRANSKULTURAL PADA ANAK
2.
Identitas peneliti : Donny Nurhamsyah (11130032)
3.
Tahun penelitian : 2012
4.
Bentuk naskah : Makalah asuhan keperawatan
5.
Masalah yang diangkat :
An. A 8 tahun, suku Padang, Beragama
islam diantarkan orangtuanya ke Rumah Sakit Harapan Kita dengan keluhan nyeri
pada tulang keringnya. Bp. A mengatakan nyerinya timbul akibat An. A memanjat
pohon yang dikeramatkan di desanya, kemudian menurut kepercayaan orang sekitar
An. A terjatuh akibat didorong oleh penunggu pohon keramat tersebut. Menurut
cerita yang dikatakan Bp.A saat anaknya Jatuh langsung dibawa
kedukun, lalu A,n,n. A dipijit menggunakan batang sereh yang dibakar dengan
bacaan doa-doa. Bp. A mengatakan An. A dilarang mengkonsumsi makanan seperti
ikan, daging, dan telur. An. A juga tampak lemah dan lesu ,pada saat diberikan
Penkes Bp. A masih terlihat kebingungan.
6. Teori yang digunakan : teori medeleine
leininger
Keperawatan transkultural merupakan
istilah yang sering digunakan dalam cross-cultural atau lintas budaya,
intercultural atau antar budaya, dan multikultural atau banyak budaya
(Andrews,1999). Leininger merupakan ahli antropologi keperawatan sejak
pertengahan lima puluhan yang merencanakan bahwa transkultural nursing merupaer
mendefinisikan “transkultural Nursing"kan area formal yang harus
diaplikasikan dalam praktik keperawatan (leininger,1999;McFarland,2002). Leininger
mendefinisikan”transkultural Nursing” sebagai area yang luas dalam keperawatan
yang mana berfokus pada komparatif studi dan analisis perbedaan kultur dan
subkultur dengan menghargai perilaku caring, nursing care dan nilai
sehat-sakit, kepercayaan dan pola tingkah laku dengan tujuan perkembangan ilmu
dan humanistic body of knowledgeuntuk kultur yang spesifik dan
kultur yang universasl dalam keperawatan (Andrews and Boyle,1997: Leininger dan
McFarland,2002). Tujuan dari transkultural dalam keperawatan adalah kesadaran
dan apresiasi terhadap perbedaan kultur. Selain itu juga untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan dalam keperawatan yang humanis sehingga terbentuk praktik
keperawatan sesuai dengan kultur dan universal (leininger,1978).
7. Metode penelitian : pengkajian
transkultural yang dirancang dengan 7 komponen yaitu :
1) Faktor teknologi (technological
factors)
2) Faktor agama dan falsafah hidup
(religious and philosophical factors)
3) Faktor sosial dan keterikatan keluarga
(kinship and social factors)
4) Nilai-nilai budaya dan gaya hidup
(culture value and life ways)
5) Faktor kebijakan dan peraturan yang
berlaku (political and legal factors)
6) Faktor ekonomi (economical factors)
7) Faktor pendidikan (educational
factors)
8. Hasil penelitian
:
Adapun diagnosa yang muncul
pada An. A adalah
sebagai berikut :
1. Risiko nutrisi berhubungan dengan
kepercayaan tentang niali budaya terhadap makanan.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan penggunaan
obat tradisional.
3. Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kepercayaan tentang efektifitas perilaku promosi kesehatan.
Diagnosa diatas diambil berdasarkan
kondisi yang dialami pasien dan di aplikasikan dari NANDA 2012 dan teori
Sunrise Model. Dimana klien masalah yang dihadapi klien disebabkan oleh faktor
eksternal seperti lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Selain itu faktor
kebiasaan dalam keluarga dan lingkungan juga berpengaruh dalam hal ini. Setelah diagnosa atau masalah keperawatan
ditegakkan selanjutnya dilakukan pembuatan rencana tindakan dan kriteria hasil
untuk mengatasi masalah keperawatan yang ada pada klien.
v Ketiga :
1. Judul : PERSPEKTIF TRANSKULTURAL DALAM
KEPERAWATAN
2.Identitas
peneliti : Evi Hidayati 1106053086
Ismi Arummaning tyas 1106053395
Puji Mentari 1106053344
Putri Kurniasih 1106000533
Shopiati Merdika N 1106012741
Sri Darmayanti 1106089022
3. Tahun penelitian : 2011
4.
Bentuk naskah : Makalah
5.
Masalah yang diangakat :
Etnofarmakologi
dan Nutrisi dalam Perspektif Transkultural dalam Keperawatan. Seorang pasien perempuan berusia 35 tahun
masuk kerumah sakit karena keluhan perdarahan melalui vagina. Kondisi pasien
lemah dan pasien dinyatakan mengalami anemia, kadar hemoglobinnya 5 g/dL.
Pasien direncanakan untuk segera mendapatkan transfusi darah. Ketika perawat
menjelaskan rencana tersebut, pasien menolak karena menurutnya hal tersebut
bertentangan dengan keyakinannya. Perawat berusaha untuk membicarakan hal ini
dengan suami pasien namun suami pasien bekerja di luar kota dan tidak dapat
dihubungi. Pada saat ini pasien hanya ditemani oleh ibunya.
6.Teori yang digunakan : Menurut
Leininger (2002), Transcultural Nursing
adalah studi budaya pada proses belajar dan praktik keperawatan yang fokus
memandang perbedaan dan kesamaan di antara budaya dengan menghargai asuhan,
sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan,
dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya
atau keutuhan budaya kepada manusia.
7.
Metode penelitian : Metode yang dilakukan dalam membahas masalah ini adalah
dengan Metode PBL (Problem Based Learning),
yaitu Metode yang membahas suatu kasus untuk
dianalisis dan Metode Studi Pustaka yaitu metode pengumpulan
data dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang terkait dengan masalah yang
dijadikan penulisan dalam hal ini adalah Berpikir kritis dalam pengambilan
keputusan dan diagnosa keperawatan.
8. Hasil penelitian :
1. Melakukan
pengkajian
Dari
kasus tersebut, didapatkan data-data sebagai berikut:
a. pasien wanita usia 35 tahun
b. perdarahan melalui vagina
c. kadar Hb rendah, yaitu 5 g/dL
d. menolak transfusi darah karena
keyakinannya
e. kondisi pasien lemah
f. suami tidak dapat dihubungi
g. ditemani oleh ibu
2. Melakukan diagnosa keperawatan dan
merencanakan asuhan keperawatan dengan pendekatan transkultural. Dari data-data
yang didapatkan, perawat menyusun diagnosa keperawatan dalam perspektif
transkultural. Artinya, diagnosa keperawatan yang disusun untuk kemudian
digunakan sebagai acuan penyusunan rencana asuhan keperawatan harus sesuai
dengan budaya klien agar tidak terjadi cultural
shock.
3.
Membicarakan rencana
asuhan keperawatan kepada ibu klien.
Rencana
asuhan keperawatan yang dibuat, antara lain transfusi darah, harus dilakukan
kepada keluarga pasien. Karena suami pasien sedang tidak ada dan tidak dapat
dihubungi sedangkan pasien harus mendapat penanganan segera, maka hal ini
disampaikan pada ibu pasien yang menemani. Adanya peran serta keluarga dalam
pemberian asuhan keperawatan sangat penting untuk meningkatkan kondisi klien.
Penyampaian rencana asuhan keperawatan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami
oleh klien dan keluarga klien.
4.
Menginformasikan akibat
jika klien tidak di transfusi.
Perawat
berusaha meyakinkan ibu klien bahwa transfusi darah merupakan tindakan yang
sangat penting dan merupakan pilihan utama. Perawat harus menyampaikan hal ini
pada keluarga klien dan pada klien itu sendiri dengan cara yang tepat, agar
tidak terkesan mengancam atau menakut-nakuti.
5.
Memberi asupan-asupan
nutrisi yang bisa meningkatkan atau menunjang pembentukan darah.
Selama pasien diberi penjelasan dan diyakinkan
mengenai pentingnya transfusi darah, perawat harus memberi asupan-asupan
nutrisi yang dapat mempercepat atau menunjang pembentukan darah dalam tubuh
pasien untuk meningkatkan kadar Hb pasien, di antaranya adalah zat besi (Fe).
Asupan nutrisi dapat berupa makanan, minuman, atau suplemen, bahkan dapat
berupa suntikan. Tentu saja pemberian nutrisi tidak boleh terlalu berlebihan,
karena dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan kesehatan baru pada pasien.
v Keempat :
1.
Judul : PERSPEKTIF
TRANSKULTURAL DALAM KEPERAWATAN DAN APLIKASI TRANSKULTURALPADA BEBERAPA MASALAH
KESEHATAN
2. Identitas peneliti : Esra
Devi Tarida L, 1106053092
Ihda Fakhriyana Istikarini, 1106053413
Mersiliya Sauliyusta, 1106000792
Rizki Annisa Rahardhiani, 1106014122
Rosanita Intan Pratiwi, 1106089092
Umi Barokah, 1106053350
3.
Tahun
penelitian : 2011
4.
Bentuk penelitian : Makalah
5.
Masalah
yang diangkat :
Kasus diabetes dapat ditinjau dari transkultural
keperawatan bahwa budaya seseorang terkhususnya dalam makanan memepengaruhi
resiko terkena diabetes dan menjadi faktor pertimbangan dalam memberikan asuhan
keperawatan agar berjalan efektif.Kebanyakan manusia bervariasi sekitar 82-110
mg/dl pada keadaan sebelum makan. Setelah makan akan naik sekitar 140 mg/dl.
The American Diabetes Association merekomendasikan kadar glukosa pasca-makan
<180 mg/dl dan pra-makan pada kadar 90-130 mg/ dl. Pada laki-laki dewasa sehat
denagn berat 75 kg dan volume 5 liter darah, glukosa levelnya 110 mg/dl. Pada
penderita diabetes, kadar glukosa saat puasa >126 mg/ dl dan saat normal
>200 mg/ dl.
6. Teori yang digunakan :
Teori keperawatan transkultural didefinisikan
oleh Leininger (2002) sebagai penelitian perbandingan budaya untuk memahami
persamaan (budaya universal) dan perbedaan (budaya tertentu) di antara kelompok
manusia. Tujuan keperawatan transkultural adalah bentuk pelayanan yang sama
secara budaya atau pelayanan yang sesuai pada nilai kehidupan individu dan arti
yang sebenarnya. Mengetahui nilai-nilai pelayanan budaya klien, arti,
kepercayaan, dan praktiknya sebagai hubungan antara perawat dan pelayanan
kesehatan mewajibkan perawat untuk menerima aturan pelajar atau teman sekerja
dengan klien dan keluarganya dalam bentuk karakteristik arti dan keuntungan
dalam pelayanan (Leininger, 2002).
7.
Metode
penelitian :
Metode yang dilakukan dalam membahas masalah ini
adalah dengan Metode PBL (Problem Based
Learning), yaitu Metode yang membahas suatu kasus untuk dianalisis dan Metode
Studi Pustaka yaitu metode pengumpulan data dengan
cara mengumpulkan sumber-sumber yang terkait dengan masalah yang dijadikan
penulisan dalam hal ini adalah Berpikir kritis dalam pengambilan keputusan dan
diagnosa keperawatan.
8. Hasil penelitian :
a.
Masalah yang ditemukan pada kasus tersebut, diantaranya :
v Laki-laki usia 50 tahun,
v
Pingsan saat rapat
di kantornya,
v
Kadar gula darahnya mencapai 450mg/dl,
v
Dua tahun didiagnosis menderita Diabetes Mellitus tipe II,
v
Kegemukan, dan
v Kesulitan
mengatur makanannya karena kebiasaan budaya Jawanya makan makanan yang manis.
b.
Analisis kasus
Ditinjau dari keadaan fisik :
-
Kegemukan
-
Kadar gula darah di
atas normal
Ditinjau dari pola hidup :
-
Kurang aktivitas
fisik
-
Banyak mengkonsumsi
makanan mengandung gula
c. Peran perawat
o Memberi interferensi berupa konsultasi, penyuluhan
komunitas dan pasien,bantuan dalam menjaga pola makan dan melakukan
implementasi independent dari dokter berupa pemberian obat dan aturan pemakaian.
o Memberikan pelayanan kesehatan selama medikasi di rumah
sakit dan menjaga kondisi kesehatan pasien agar tidak menurun bahkan
meningkatkan kondisi kesehatannya.
d.
Peran dari segi
transkultural
o Memberi pendidikan kesehatan komunitas menyangkut deskripsi
DM, diet dan bahayanya
o Mengkaji jenis makanan yang biasa dikonsumsi komunitas
tersebut
o Menghimbau pola makan yang sesuai untuk diet DM dan juga
dapat diterima pada budaya pasien→dapat berupa mengganti gula yang ditolerir
oleh penderita DM atau mengurangi konsumsi gula yang biasa digunakan.
2.2 Teori
Yang Digunakan
Teori dan model konsep keperawatan Transkultural
Ø Konsep teori
medeleine leininger
Pada akhir 1970
medeleine leininger membuat model konseptual
tentang pemberian traskultural. Konsepnya ´sunrise modelµ di publikasikan di
berbagai buku dan artikel jurnal dan menarik banyak perhatian dari berbagai
penjuru dunia (leninger, 1984). Yang kemudian diakui public pada tahun
1998. Setelah menyelesaikan pendidikanya sebagai perawat psikiatrik,
leninger melanjutkan studinya di bidang antropologi cultural. Hal ini
menghasilkan di kembangkannya konsep kerangka kerja pemberian asuhan
transkultural, yang mengakui adanya perbedaan (diversitas), dan persamaan
(universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda.
Beberapa inti
dari model teorinya
1.
Asuhan membantu, mendukung atau membuat
seorang atau kelompok yang memiliki kebutuhan yang
memiliki kebutuhan nyata agar mampu memperbaiki jalan hidup dan
kondisinya.
2.
Budaya
diekspresikan sebagai norma-norma dan nilai nilai kelompok tertentu.
3.
Asuhan transkultural perawat secara
sadar mempelajari norma- norma nilai nilai dan cara hidup
budaya tertentu dalam rangka memberikan bantuan dan dukungan dengan tujuan
untuk membantu individu mempertahankan tingkat kesejahteraanya.
4.
Diversitas asuhan cultural Keanekaragaman
asuhan kultural mengakui adanya variasi dan rentang
kemungkinan tindakan dalam hal memberikan bantuan dan dukungan.
5.
Universsalitas asuhan kulturalasuhan kultural
merujuk pada persamaan atau karakteristik
universal, dalam hal memberikan bantuan dan dukungan
Ø Perbedaan budaya menurut Leininger
· PRESERVASI ASUHAN KULTURAL
Preservasi asuhan cultural berarti
bahwa keperawatan melibatkan penghargaan yang penuh terhadap pandangan budaya
dan ritual pasien serta kerabatnya.
· ADAPTASI
ASUHAN K ULTUR AL
Bertentangan dengan preservasi asuhan
kultural, adaptasi asuhan kultural melibatkan negosiasi dengan pasien dan
kerabatnya dalam rangka menyesuaikan pandangan dan ritual tertentu yang
berkaitan dengan sehat, sakit, dan asuhan.
· REKONSTRUKSI ASUHAN KULTURAL
Rekonstruksi
asuhan kultural melibatkan kerjasama dengan pasien
dan kerabatnya dalam rangka membawa perubahan terhadap perilaku mereka yang
berkaitan dengan sehat, sakit, dan asuhan dengan cara yang bermakna bagi
mereka.
1. Pengertian teori Transkultural
Teori ini berasal dari disiplin
ilmu antropologi dan oleh Dr. M. leininger dikembangkan dalam konteks
keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep keperawatan yang didasari oleh
pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam
masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan
keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada
klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya
cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi
dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan
kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan,
ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutaan budaya yang
dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan
keperawatan yang diberikan.
Transkultural Nursing adalah suatu
area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang
fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai
asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan
tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya
budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari
keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan.
Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan
dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan
kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan
sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai
segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang
utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur
dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.
2. Konsep dalam Transkultural Nursing
a.
Budaya
Adalah
norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi
serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
b.
Nilai budaya
Adalah
keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan
yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu danmelandasi tindakan dan
keputusan.
c.
Perbedaan budaya
Dalam
asuhan keperawatan merupakan bentuk yangoptimal dari pemberian asuhan
keperawatan, mengacu pada kemungkinanvariasi pendekatan keperawatan yang
dibutuhkan untuk memberikan asuhanbudaya yang menghargai nilai budaya individu,
kepercayaan dan tindakantermasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu
yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
c.
Etnosentris
Diantara
budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain. adalah persepsi yang dimiliki oleh
individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik.
e.
Etnis
Berkaitan
dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut
ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
f.
Ras
Adalah
perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal
manusia
g.
Etnografi
Adalah
ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi
memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan
budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara
keduanya.
h.
Care
Adalah
fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada
individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan
baik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan
manusia.
i.
Caring
Adalah
tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,mendukung dan mengarahkan
individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi
kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
j.
Cultural Care
Berkenaan
dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,kepercayaan dan pola ekspresi
yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu,
keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan
bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
k.
Culturtal imposition
Berkenaan
dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan
nilai diatas budaya orang lainkarena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh
perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.
3. Paradigma Transkultural Nursing
Leininger
(1985) mengartikan paradigma keperawatan transkultural sebagai cara pandang,
keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan
yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral
keperawatan (Andrew and Boyle, 1995), yaitu :
-.
manusia,
-.
sehat,
-.
lingkungan dan
-
Keperawatan.
·
Manusia
Manusia adalah individu,
keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini
dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger
(1984) manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada
setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995). Klien yang dirawat di rumah
sakit harus belajar budaya baru ,yaitu budaya rumah sakit ,selain membawa
budayanya sendiri.Klien secara aktif memilih budaya dari lingkungan ,termasuk
dari perawat dan semua pengunjung di rumah sakit.klien yang sedang dirawat
belajar agar cepat pulih dan segera pulang ke rumah untuk memulai aktivitas
hidup yang lebih sehat.
·
Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan
aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang
sehat dan sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan
dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan
seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan
perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat
dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995). Kesehatan adalah keseluruhan
aktivitas yang dimiliki klien dalm mengisi kehidupanya ,yang terletak pada
rentang sehat sakit (Leininger , 1978 ).Kesehatan merupakan suatu keyakinan
,nilai ,pola kegiatan yang dalam konteks budaya digunakan untuk menjaga dan
memelihara keadaan seimbang/sehat ,yang dapat diamati dalam aktivitas
sehari-hari ( Andrew & Boyle ,1995 ).Kesehatan menjadi focus dalam
interaksi antara perawat dank lien. Menurut
Depkes (1999 ) ,sehat adalah keadaan yang memungkinkan seorang produktif.Klien
yang sehat adalah yang sejahtera dan seimbang secara berlanjut dan
produktif.Produktif bermakna dapat menumbuhkan dan mengembangkan kualitas hidup
secara optimal.Klien memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memfungsikan
diri sebaik mungkin di tempat ia berada. Klien dan perawat mempunyai tujuan
yang sama ,yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit
yang adaptif (Leininger ,1978 ).Asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan klien memilih secara aktif budaya yang sesuai
dengan status kesehatannya. Untuk memilih secara aktif budaya yang sesuai
dengan status kesehatannya, klien harus mempelajari lingkunganya.Sehat yang
akan dicapai adalah kesehatan yang holistic dan humanistic karena melibatkan peran
serta klien yang lebih dominan.
·
Lingkungan
Lingkungan didefinisikan
sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan
perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupandimana
klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan
yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam
atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman
padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat
karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah
keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu,
keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan
sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di
lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol
yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
iwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan. Lingkungan adalah keseluruhan
fenomena yang mempengaruhi perkembangan ,keyakina,dan perilaku klien.Lingkungan
dipandang sebagai suatu totalitas kehiduapan klien dan budayanya.Ada tiga
bentuk lingkungan yaitu lingkungan fisik ,sosial, dan simbolik (Andrew &
Boyle ,1995 ).Ketiga bentuk lingkungan tersebut berinteraksi dengan diri
manusia membentuk budaya tertentu.
Lingkungan fisik adalah lingkungan
alam atau lingkungan yang diciptakan oleh manusia , seperti daerah
khatulistiwa, pegunungan , pemukiman padat , dan iklim tropis ( Andrew &
boyle, 1995 ). Lingkungan fisik dapat membentuk budaya tertentu, misalnya
bentuk rumah di daerah panas yang mempunyai banyak lubang , berbeda dengan
bentuk rumah orang Eskimo yang hampir tertutup rapat ( Andrew & Boyle ,1995
).Daerah pedesaan atau perkotaan dapat menimbulkan pola penyakit tertentu,
seperti infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Indonesia lebih tinggi
di daerah perkotaan ( Depkes ,1999 ).Bring ( 1984 dalam Kozier &Erb ,1995 )
menyatakan bahwa respon klien terhadap lingkungan baru, misalnya rumah sakit
dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini klien.
Semua faktor tersebut berbeda pada
setiap negara atau area, sesuai dengan kondisi masing-masing daerah, dan akan
mempengaruhi pola/cara praktik keperawatan. Semua langkah perawatan tersebut
ditujukan untuk pemeliharaan kesehatan holistik, penyembuhan penyakit,dan
persiapan kematian.oleh karena itu harus dikaji perawat sebelum memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien sebab masing-masing faktor mempengaruhi
terhadap ekspresi,pola,praktik keperawatan.Dengan demikian faktor tersebut
besar kontribusinya terhadap pencapaian kesehatan secara holistik.Dari faktor
tersebut masuk kedalam level pertama yaitu tahap pengkajian.
·
Keperawatan
Asuhan
keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien.
Strategi yang digunakan dalam melaksanakan asuhan keperawatan(Leininger, 1991)
adalah :
-. Strategi I, Perlindungan/mempertahankan budaya.
Mempertahankan
budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai
yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau
mempertahankan status kesehatannya,misalnya budaya Berolah raga setiap pagi
-. Strategi II, Mengakomodasi/negoasiasi budaya.
Intervensi
dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan.
Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang
makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani
yang.
-. Strategi III, Mengubah/mengganti budaya klien
Restrukturisasi
budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki us kesehatan. Perawat berupaya
merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok.
Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai
dengan keyakinan yang dianut.
4.Proses keperawatan
Transkultural.
Model konseptual yang
dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks
budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model) seperti yang
terdapat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini
digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap
masalah klien (Andrew andBoyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan
dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
1.
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar,
1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada “Sunrise
Model” yaitu :
a. Faktor
teknologi (technological factors)
Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka
perawat perlu mengkaji berupa : persepsi pasien tentang penggunaaan dan
pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini, alasan
mencari bantuan kesehatan.
b.
Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical
factors) Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yangamat realistis
bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk
menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri.
Faktor agama yang harus dikaji oleh perawatadalah : agama yang dianut, status
pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan
kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c.
Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social
factors) Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : namalengkap,
nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,status, tipe
keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, danhubungan klien dengan kepala
keluarga.
d.
Nilai-nilai budaya dan gaya
hidup (cultural value and life ways) Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang
dirumuskan dan ditetapkanoleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk.
Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :posisi
dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit
berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
e.
Faktor kebijakan dan
peraturan yang berlaku (political and legal factors) Kebijakan dan peraturan
rumah sakit yang berlaku adalah segalasesuatu yang mempengaruhi kegiatan
individu dalam asuhankeperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang
perlu dikajipada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan
dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.
f.
Faktor ekonomi (economical factors) Klien yang dirawat di rumah
sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai
sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat
diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki
oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari
kantor atau patungan antar anggota keluarga.
g.
Faktor pendidikan (educational factors) tentang pengalaman
sakitnya sehingga tidak terulang kembali. Latar belakang pendidikan klien
adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat
ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung
oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar
beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan
serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri.
5. Diagnosa keperawatan transkultural
Diagnosa
keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat
dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and
Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnose keperawatan yang sering ditegakkan
dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu :
-.
Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
-.
Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
-.
Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.
6.Perencanaan dan Pelaksanaan keperawatan trnaskultural
Perencanaan
dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan
yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi
yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar
belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995).
Ada tiga pedoman yang
ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu :
-. Mempertahankan budaya yang
dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan,
-. Mengakomodasi budaya klien
bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan
-. Merubah budaya klien bila
budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
a. Cultural care
preservation/maintenance
1) Identifikasi perbedaan
konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak
terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan
budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural care
accomodation/negotiation
1) Gunakan bahasa yang mudah
dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam
perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak
terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan
biomedis, pandangan klien dan standar etik.
c. Cultural care
repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien
untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya.
2) Tentukan tingkat perbedaan
pasien melihat dirinya dari budaya kelompok 3) Gunakan pihak ketiga bila perlu.
4) Terjemahkan terminologi
gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan
keluarga.
5) Berikan informasi pada klien
tentang sistem pelayanan kesehatan.
Perawat
dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing masing melalui proses
akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang
akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami
budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara
perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari
efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat
terapeutik.
7.Evaluasi asuhan keperawatan transkultural
Evaluasi
asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang
mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien
yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang
mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi
dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya
klien.
8. Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan
Transkultural
Jika pemahaman mengenai latar belakang etnik, budaya, dan
agama yang berbeda antar klien baik, maka akan dapat meningkatkan pemberian
asuhan keeperawatan secara efektif. Kozier (2004) menjelaskan beberapa konsep
yang berhubungan dengan asuhan keperawatan transkultural ini. Diantaranya:
1. Subkultur
Sebuah subkultur
biasanya terdiri dari orang-orang yang mempunyai suatu identitas yang berbeda. Namun
masih dihubungkan dengan suatu kelompok yang lebih besar.
2. Enkultural
Enkultural
digunakan untuk mendeskripsikan orang yang menggabungkan (persilangan) dua
budaya, gaya hidup, dan nilai-nilai (Giger & Davidhizar, 1999).
3. Keanekaragaman
Keanekaragaman
menunjuk pada fakta atau status yang menjadikan perbedaan. Diantaranya, ras,
jenis kelamin, orientasi seksual, etnik kebudayaan, status ekonomi-sosial,
tingkat pendidikan, dan lain-lain.
4. Akulturasi
Proses akulturasi terjadi saat seseorang beradaptasi
dengan ciri budaya lain. Anggota dari sebuah kelompok budaya yang tidak dominan
seringnya terpaksa belajar kebudayaan baru untuk bertahan. Hal ini juga dapat
didefinisikan sebagai perubahan pola kebudayaan terhadap masyarakat dominannya
(Spector, 2000).
5. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses
seorang individu berkembang identitas kebudayaannya. Asimilasi berarti menjadi
seperti anggota dari kebudayaan yang dominan. Beberapa aspeknya, seperti
tingkah laku, kewarganegaraan, ciri perkawinan, dan sebagainya. Di sini,
seseorang atau kelompok kehilangan beberapa kebudayaan aslinya untuk kemudian
membentuk kebudayaan baru bersama dengan yang lain. Hal ini ditujukan untuk
membentuk interaksi yang baik.
9. Prinsip-prinsip asuhan
keperawatan transkultural
1.Semua kebudayaan
manusia mempunyai gaya hidup, asuhan keperawatan,
dan metode pengobatan yang berbeda, dan
perawat harus memahami untuk dapat bekerja secara efektif dengan orang lain.
2.Asuhan keperawatan
adalah kebutuhan dasar manusia dan merupakan fokus dominan pada keperawatan.
3.Memahami
kebudayaan sendiri adalah langkah penting pertama untuk dapat memahami
kebudayaan lain.
4.Tiap orang memiliki
hak untuk dihormati, dipahami, dikenal nilai budayanya, dan mendapatkan asuhan
keperawatan dan pelayanan kesehatan yang lain.
5.Asuhan keperawatan
transkultural berhubungan dengan kepercayaan, perbandingan nilai, dan praktik
kebudayaan tertentu untuk menyediakan praktik layanan kesehatan yang spesifik,
aman, dan berarti.
6.Perawat menggunakan
pengetahuan asuhan budaya humanis dan ilmiah untuk menyediakan asuhan
keperawatan pada klien dengan kebudayaan yang berbeda-beda.
7.Memahami perbedaan
asuhan budaya dan kesamaannya akan membuat perawat menghormati dan membantu
pasien untuk sembuh, mencegah penyakit, dan menghindari kematian prematur.
8.Kemampuan perawat
untuk berbicara bahasa klien akan mempermudah pemahaman apa yang dialami oleh
klien.
9.Jika gaya hidup,
nilai, dan ekspresi budaya terasa mustahil, perawat tetap harus mencoba untuk
memahami klien tersebut.
10.Setiap budaya,
asuhan, penyembuhan, dan praktik kesehatan dipengaruhi oleh pandangan dunia,
konteks lingkungan, dan struktur sosial.
11.Budaya biasanya
mempunyai dua tipe utama sistem asuhan keperawatan, yaitu generik dan
profesional.
12.Budaya mempunyai
cara sendiri untuk memelihara kesehatan, menghadapi kematian, mengalami hal
yang tidak menyenangkan, dan krisis.
13.Praktik keperawatan
di Barat dan non-Barat mempunyai perbedaan utama yang perlu dipahami ketika
merencanakan dan menyediakan asuhan keperawatan.
10. Pengkajian
Asuhan keperawatan Budaya
Pengkajian
adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi klien sesuai dengn latar
belakang budaya klien (Goger and Davidhizar, 1995). Tujuan dari pengkajian
budaya adalah untuk menghasilkan informasi signifikan dari klien dan pemahaman
yang memungkinkan perawat untuk menerapakan asuhan keperawatan yang sesuai
(Leininger and McFarland). Selain itu, pengkajian asuhan keperawatan budaya
memiliki tujuan lain, diantaranya :
a. untuk menemukan
budaya keperawatan klien, pola kesehatan serta makan yang berkaitan dengan
pandangan klien cara hidup, nilai-nilai budaya, kepercayaan dan faktor struktur
sosial.
b. untuk mendapatakan
informasi budaya keperawatan secara menyeluruh sebagai dasar kuat untuk
penentuan keputusan dan tindakan asuhan keperawatan.
c. untuk menemukan
pola-pola keperawatan budaya tertentu yang dapat digunakan untuk membuat
keputusan keperawatan yang sesuai dengan nilai-nilai klien, cara hidup, dan
untuk menemukan pengetahuan apa yang dapat membantu klien.
d. untuk
mengidentifikasi daerah yang berpotensi mengalami konflik budaya, bentrokan dan
daerah yang terasingkan aibat perbedaan nilai emik dan etik antara klien dan
tenaga kesehatan rofesional.
e. untuk
mengidentifikasi perbandingan informasi keperawatan budaya antar klien mengenai
perbedaan atau persamaan budaya, yang dapat dibagi dan digunakan dalam praktek
kinis, pengajaran dan penelitian.
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dapat dikategorikan
sebagai jenis penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang mendeskripsikan
tentang. Dengan kata lain jenis penelitian kualitatif merupakan suatu prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat suatu individu,
keadaan, gejala, dari kelompok tertentu yang diamati. (Moleong, 2006:6).
Penelitian
kualitatif adalah
penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan
analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif
subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu
agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu
landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar
penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Dalam penelitian
kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai
bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
3.2 Subjek Penelitian
3.3 Lokasi Penelitian
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah observasi, Observasi adalah suatu
penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan
menggunakan alat indra terutama mata terhadap kejadian-kejadian yang langsung. Penggunanan metode ini
sangat dipengaruhi oleh interesnya sang peneliti.
Observasi ini lebih banyak digunakan pada statistika survei,misalnya akan
meneliti perilaku orang-orang suku tertentu. Observasi ke lokasi yang
bersangkutan akan dapat diputuskan alat ukur mana yang tepat untuk
digunakan . Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi. Kadang observasi dilakukan
untuk meneliti kembali validitas dari data yang telah diperoleh sebelumnya dari
individu-individu.
Selain menggunakan observasi
peniliti menggunakan metode wawancara yaitu sebuah proses komunikasi
berpasangan dengan suatu tujuan yang serius dan telah ditetapkan sebelumnya
yang dirancang untuk bertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab (Charles Stewart dan W.B. Cash). Dengan
menggunakan Wawancara memberikan kesempatan kepada pewawancara untuk
memotivasi orang yang diwawancarai untuk menjawab dengan bebas dan terbuka
terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, memungkinkan pewawancara untuk
mengembangkan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan situasi yang berkembang, pewawancara
dapat menilai kebenaran jawaban yang diberikan dari gerak-gerik dan raut wajah
orang yang diwawancarai, pewawancara dapat menanyakan kegiatan-kegiatan khusus
yang tidak selalu terjadi.
3.5 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan
beberapa instrumen yaitu :
1) instrument yang utama adalah
peneliti
2) instrument pengkajian budaya, yaitu
:
a.
Mempertahankan Budaya
Mempertahankan
budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai
yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau
mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b.
Negosiasi Budaya
Intervensi
dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan.
Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang
makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani
yang lain.
c.
Restrukturisasi Budaya
Restrukturisasi
budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan.
Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok
menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih
menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
3) pedoman observasi digunakan untuk
memperoleh data yang lebih akurat, sehingga dapat membuktikan benar tidaknya
apa yang dilihat, didengar, diamati, diukur, melalui penelitian.
4) pedoman wawancara digunakan untuk
menciptakan hubungan yang baik diantara dua pihak yang terlibat (subjek
wawancara dan pewawancara), meredakan ketegangan yang terdapat dalam subyek
wawancara.Menyediakan informasi yang dibutuhkan, mendorong ke arah pemahaman
diri pada pihak subyek wawancara, mendorong ke arah penyusunan kegiatan yang
konstruktif pada subyek wawancara.
5) alat
rekam, digunakan untuk merekam setiap pembicaraan antara peneliti dengan
narasumber, selain untuk berguna untuk pendokumentasian hasil wawancara.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
adalah deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan secara rinci mengenai hal-hal
yang ada pada rumusan masalah yang kemudian dijabarkan pada pembahasan. Penelitian kualitatif jauh lebih
subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat
berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan
wawancara secara mendalam dan fokus.
Peserta diminta untuk menjawab
pertanyaan umum, dan interviewer menjelajah dengan tanggapan narasumber untuk mengidentifikasi
dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang
dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada. Kualitas hasil
temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan,
pengalaman dan kepekaan dari interviewer.
DAFTAR PUSTAKA
Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural
Nursing : Concepts, Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill
Companies
Andrew . M & Boyle. J.S, (1995), Transcultural Concepts
in Nursing Care, 2nd Ed, Philadelphia, JB Lippincot Company
Giger. J.J & Davidhizar. R.E, (1995), Transcultural
Nursing : Assessment and Intervention, 2nd Ed, Missouri , Mosby Year Book Inc
Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care
of Adult ; Section One Understanding The Theoretical Basis of Transcultural
Nursing Care
http://wayanpuja.wordpress.com/2011/05/15/20/
http://wayanpuja.wordpress.com/2011/05/15/20/
Potter, P.A. dan Perry,
A.G. 2009. Fundamental of Nursing: Concepts, Process, and Practice. 7th
Edition. St. Louis: Elsevier
Afifah, Efy. Ringkasan
Materi Unit 2 Keragaman Budaya dan Perspektif
Transkultural dalam Keperawatan.
http://staff.ui.ac.id/internal/132051049/material/transkulturalnursing.pdf
http://10107147.blog.unikom.ac.id/transkultural-dalam.n6
Kozier, B., Erb, G.,
Berman, A.J., & Snyder. (2004). Fundamentals
of Nursing: Concepts, Process, and Practices, 7th Ed. New
Jersey: Pearson Education, Inc.
M. Foster, George &
Gallatin Anderson, Barbara (2006). Antropologi Kesehatan : Foster/Anderson.
Novieastari, Enie.
“Perkembangan Transkultural dalam Keperawatan”. http://staff.ui.
ac.id/internal/132014715/material/PerkembanganTranskulturaldalamKeperawatan.pdf.
Aplication pdf
Lampiran 1
Instrumen Pengkajian Warisan Budaya melalui
wawancara
1. Dimana ibu Anda
lahir ? ______
2. Dimana ayah Anda
lahir ? ______
3. Dimana kakek –
nenek Anda lahir ? ______
a. Ibu dari Ibu Anda ? ______
b. Ayah dari Ibu Anda ? ______
c. Ibu dari Ayah Anda ? ______
d. Ayah dari Ayah Anda ? ______
4. Berapa saudara laki
– laki ______ dan perempuan ______
5. Dimana Anda
dibesarkan ? Desa _____ Kota ______ Pinggir Kota ______
6. Dimana orang tua
Anda dibesarkan ? Ayah ______ Ibu ______
7. Berapa usia Anda
ketika datang ke Indonesia ? ______
8. Berapa usia orang
tua Anda ketika datang ke Indonesia ? ______
9. Ketika Anda dibesarkan, siapa yang tinggal dengan Anda ?
______ Keluarga Inti ______ atau Keluarga Besar ______
10. Apakah Anda
mempertahankan kontak dengan :
a. Bibi, Paman, Sepupu ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
b. Saudara Laki – Laki dan Perempuan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 )
Tidak ______
c.
Orang Tua ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
d. Anak Anda Sendiri ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
11. Apakah kebanyakan
dari bibi, paman, sepupu Anda tinggal dekat rumah Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
12. Kira – kira seberapa sering Anda mengunjungi anggota
keluarga Anda yang tinggal di luar rumah Anda ? ( 1 ) Setiap Hari _____( 2 )
Setiap Minggu ______ ( 3 ) Setiap Bulan ______ ( 4 ) Hanya Liburan Khusus
______ ( 5 ) Tidak Pernah ______
13. Apakah nama asli
keluarga Anda di ganti ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
14. Apakah kepercayaan Anda ? ( 1 ) Katolik ______ ( 2 ) Islam
______ ( 3 ) Protestan ______ Denominasi ______ ( 4 ) Lain – Lain ______ ( 5 )
Tidak Ada ______
15. Apakah pasangan Anda mempunyai kepercayaan yang sama dengan
Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
16. Apakah pasangan Anda mempunyai latar belakang etnik sama
dengan Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
17. Anda sekolah dimana ? ( 1 ) Pemerintah ______ ( 2 ) Swasta
_____( 3 ) Seminari / Pesantren ______
18. Sebagai seorang dewasa, apakah Anda tinggal di daerah dimana
tetangga mempunyai kepercayaan dan latar belakang yang sama dengan Anda ? ( 1 )
Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
19. Apakah Anda
memiliki institusi keagamaan ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
20. Dapatkah Anda mengambarkan diri Anda sendiri sebagai anggota
yang aktif? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
21. Seberapa sering Anda menghadiri institusi keagamaan Anda ? (
1 ) Lebih dari satu minggu ______ ( 2 ) Setiap minggu ______. ( 3 ) Setiap
bulan ______ ( 4 ) Sekali setahun atau kurang ______ ( 5 ) Tidak pernah ______
22. Apakah Anda mempraktikkan keagamaan Anda di rumah? ( 1 ) Ya
______ (2) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______ ( 3 ) Berdoa
______ ( 4 ) Membaca Kitab Suci ______ (5 ) Diet ______ ( 6 ) Merayakan hari
besar keagamaan ______
23. Apakah Anda
menyiapkan makanan sesuai latar belakang etnik Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
24. Apakah Anda berpartisipasi dalam aktivitas etnik ? ( 1 ) Ya
______ ( 2 ) Tidak ______ ( bila ya, sebutkan tempatnya ) ______ ( 3 )
Bernyanyi _____ ( 4 ) Perayaan Hari Besar _____ ( 5 ) Berdansa ______( 6 )
Festival ______ ( 7 ) Adat Istiadat ______ ( 8 ) Lain – Lain ______
25. Apakah teman Anda
dari latar belakang kepercayaan yang sama dengan Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
26. Apakah teman Anda
dari latar belakang etnik yang sama dengan Anda?
( 1 ) Ya ______ ( 2 )
Tidak ______
27. Apakah bahasa asli
Anda ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
28. Apakah Anda
berbicara dengan bahasa tersebut ? ( 1 ) Ya ______ ( 2 ) Tidak ______
29. Apakah Anda membaca dalam bahasa asli Anda ? ( 1 ) Ya ______
( 2 ) Tidak _____
Makin besar jumlah jawaban Ya, makin kuat klien memiliki
keturunan tradisional
Lampiran 2
Instrumen Pengkajian Keperawatan melalui
wawancara
1. Menurut Anda apa
yang menyebabkan penyakit Anda ?
2. Seperti apa kami
dapat memecahkan masalah Anda ?
Ø
Terfokus
1. Apakah Anda pernah
mengalami masalah ini sebelumnya ?
2. Apakah ada seseorang yang Anda ingin agar kami bicara dengannya
mengenai perawatan Anda?
Ø
Kontras
1. Bagaimana perbedaan masalah ini dengan masalah sebelumnya ?
2. Apa perbedaan antara apa yang perawat kerjakan dengan apa
yang Anda pikirkan, bagaimana perawat memperlakukan untuk Anda ?
Ø
Riwayat Etnik
1. Berapa lama Anda /
orang tua Anda tinggal di negara ini ?
2. Apa latar belakang
etnik atau asal leluhur Anda ?
3. Seberapa kuat
budaya mempengaruhi Anda ?
4. Ceritakan alasan
Anda meninggalkan tanah air Anda ?
Ø
Organisasi Sosial
1. Siapa yang tinggal
dengan Anda ?
2. Siapa yang Anda
anggap sebagai anggota keluarga Anda ?
3. Dimana anggota
keluarga Anda yang lain tinggal ?
4. Siapa yang membuat keputusan untuk Anda atau keluarga Anda ?
5. Siapa yang Anda cari saat memerlukan bantuan untuk keluarga
Anda ?
6. Apa harapan Anda terhadap anggota keluarga yang pria, wanita,
tua, atau muda ?
Ø Status Sosioekonomi
1. Apa yang Anda
lakukan untuk kehidupan ?
2. Bagaimana perbedaan
kehidupan Anda di sini dibandingkan tempat asal?
Ø Ekologi Biokultural
dan Risiko Kesehatan
1. Apa penyebab
masalah Anda ?
2. Bagaimana masalah mempengaruhi Anda atau bagaimana masalah
itu mempengaruhi kehidupan Anda dan keluarga Anda ?
3. Bagaimana Anda
mengatasi masalah tersebut di rumah ?
4. Apa masalah lain
yang Anda hadapi ?
Ø Bahasa dan Komunikasi
1. Apa bahasa yang Anda
gunakan di rumah ?
2. Apa bahasa yang
Anda gunakan untuk membaca dan menulis ?
3. Bagaimana perawat
harus berbicara atau memanggil Anda ?
4. Apa jenis
komunikasi yang menggangu Anda ?
Ø Kepercayaan dan
Praktik Pelayanan
1. Apa yang Anda
lakukan untuk menjaga kesehatan Anda ?
2. Apa yang Anda
lakukan untk menunjukkan kepedulian Anda ?
3. Bagaimana Anda
merawat anggota keluarga yang sakit?
4. Pemberi layanan
mana yang Anda cari saat Anda sedang sakit ?
5. Bagaimana perbedaan
yang perawat lakukan dengan yang dilakukan keluarga Anda saat Anda sedang sakit
?


0 komentar:
Posting Komentar